in , , ,

Menilik Kearifan Candi Arjuna, Wisata Populer di Kawasan Dieng Plateau

Fenomena embun beku yang terjadi di daerah Dieng sempat menyita perhatian wisatawan. Embun yang biasanya berupa air, di musim kemarau ini malah menjadi es. Banyak wisatawan lokal berburu moment langka tersebut dan rela melewati puluhan kilometer jauhnya untuk sampai ke dataran tinggi Banjarnegara, Jawa Tengah.

Baca juga : Liburan Makin Seru di Situ Cinangsi Bogor

Berfoto di sekitar candi (c) Reezumiku/Travelingyuk

Salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi saat ini adalah Candi Arjuna. Yuk,  cari tahu lebih dalam mengenai satu tempat istimewa bagi masyarakat Dieng ini!

Dieng punya pemandangan memukau dengan tanah subur

Pemandangan dari gardu pandang Dieng (c) Reezumiku/Travelingyuk

Sebelum menjelajah lebih dalam tentang Candi Arjuna, ada baiknya kamu tahu pesona Dieng. Daerah ini masuk wilayah kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Wonosobo, sebelah barat Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Pemugaran candi (c) Reezumiku/Travelingyuk

Daerah pegunungan Dieng dikaruniai tanah yang subur dan air yang jernih serta melimpah, sehingga sangat makmur dijadikan area pertanian. Komoditas utamanya adalah kentang, namun berbagai jenis sayuran lain juga tumbuh segar di sini.

Lestarikan tradisi turun-temurun

Tak hanya keindahan alam dan pertanian yang luar biasa. Warga Dieng juga masih melestarikan berbagai tradisi turun temurun. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini ialah ruwatan anak-anak berambut gimbal. Kini, kegiatan turun temurun itu dibalut dalam Dieng Culture Festival.

Pemotongan rambut gimbal (c) Kunti Erm/Travelingyuk

Bagi sebagian masyarakat Dieng, pencukuran rambut anak-anak gimbal perlu dilakukan. Mereka percaya bahwa prosesi ini bertujuan agar anak-anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik hingga dewasa nanti.

Diserbu wisatawan (c) Reezumiku/Travelingyuk

Namun, sebagian penduduknya juga mulai meninggalkan aktivitas ruwatan untuk mencukur rambut gimbal anak-anak. Mereka mulai khawatir sebab kegiatan tersebut dapat berbau syirik. Nyatanya, mencukur saja sudah cukup dan membuat penampilan jadi lebih rapi. Seremoni ruwatan yang masih berlangsung hingga kini lebih kepada hiburan atau
untuk menarik wisatawan.

Candi Arjuna, peninggalan umat Hindu

Dieng Culture Festival dilaksanakan di kompleks Candi Arjuna. Candi tersebut diperkirakan mulai dibangun pada abad ke-7, yaitu di masa pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno. Telah ditemukan sebuah prasasti bertuliskan tahun 731 Cakra atau 808 Masehi sehingga para ilmuwan menyimpulkan bahwa candi ini sebagai yang tertua di Jawa.

Candi Arjuna Dieng via Instagram @onitograph

Selain Candi Arjuna, terdapat juga Candi Srikandi, Candi Gatotkaca, Candi Semar, Candi Dwarawati dan Candi Bima. Saat ini, candi di kawasan tersebut juga mengalami pemugaran oleh pemerintah setempat.

Meskipun sejarah menunjukkan bahwa Hindu pernah hidup di sana, namun saat ini masyarakat Dieng mayoritas adalah Muslim. Di sepanjang perjalanan, Teman Traveler akan banyak menjumpai masjid maupun pondok pesantren.

Bangunan candi yang masih bertahan hingga kini (c) Reezumiku/Travelingyuk

Meski begitu, adat kejawen juga masih melekat sehingga ritual-ritual Jawa masih sering dijumpai. Sejarah yang panjang memang menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut. Perkembangan tiga kepercayaan, menjadikan Dieng istimewa dengan keunikannya sendiri.

Suhu ekstrem Candi Arjuna

Pengunjung yang ramai di hari libur (c) Reezumiku/Travelingyuk

Candi Arjuna berada di Desa Karangsari, Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Kompleks percandian ini berlokasi di ketinggian sekitar 2093 mdpl. Oleh sebab itulah, udara di sekitarnya cenderung sejuk dan dingin. Bahkan pada musim kemarau, suhu sempat mencapai 0 derajat celcius. Dinginnya suhu membuat embun di rerumputan sekitar Candi Arjuna mengkristal.

Padang rumput sekitar candi Arjuna (c) Reezumiku/Travelingyuk

Namun, Teman Traveler nggak perlu khawatir kedinginan. Fenomena ini hanya terjadi antara pukul 03.00 dini hari hingga 06.00 pagi. Ketika matahari muncul, embun-embun segera mencair dan suhu perlahan mulai menghangat. Pada pukul 10.00 WIB, suhu sekitar 16 derajat celcius, jadi tak perlu pakai jaket atau baju hangat lagi.

Ada apa saja di Candi Arjuna sebagai lokasi wisata?

Area wisata berdekatan seperti Gardu Panjang, Kawah Sikidang, Telaga Warna bisa jadi destinasi menarik di kawasan ini. Nah, saat memasuki kompleks percandian, pengunjung dapat memakai selendang yang merupakan ciri khas umat Hindu saat hendak masuk ke situs suci bagi mereka. Tidak ada harga sewa, siapa pun bisa memberi imbalan seikhlasnya saat mengembalikan selendang kepada petugas.

Area luar candi, tempat belanja oleh-oleh (c) Reezumiku/Travelingyuk

Di sekitar candi yang berumput hijau, terdapat penduduk lokal memakai kostum pewayangan. Mereka menyewakan jasa berfoto. Kadang kala, kostum tokoh kartun juga dipilih karena banyak pengunjung yang merupakan anak-anak.

Pemain musik di pintu masuk kompleks candi (c) Reezumiku/Travelingyuk

Di luar candi, ada pula penyewaan kuda untuk keliling kompleks candi. Bagi Teman Traveler yang suka musik, beristirahat sambil mendengarkan musisi jalanan bisa menjadi pilihan. Mulai dari grup acoustic, jazz, hingga tradisional.

Seorang bapak bermain alat musik tradisional (c) Reezumiku/Travelingyuk

Nah, sudah siapkan rencana untuk ke Candi Arjuna? Teman Traveler bisa berkunjung saat prosesi pencukuran anak berambut gimbal yang diadakan setahun sekali. Next

ramadan

Written by Reezumiku

Penulis adalah kontributor lepas di travelingyuk.com

Menyusuri Sungai Sekonyer Kalimantan Tengah Layaknya Sungai Amazone

Bukit Kapur Arosbaya, Pesona Batuan Kapur yang Menakjubkan