in , ,

Demi Cinta Rela Potong Telinga, Ini 7 Tradisi Ekstrem di Indonesia

tradisi ekstrin di Indonesia, salahsatunya rela memotong telinga demi cintanya

Demi Cinta Rela Memotong Telinga, 7 Tradisi Ekstrim di Indonesia
Demi Cinta Rela Memotong Telinga, 7 Tradisi Ekstrim di Indonesia

Indonesia memiliki berbagai budaya, agama, suku, bahasa dan tentunya tradisi. Banyak sekali tradisi unik dan ekstrim yang dilakukan oleh beberapa daerah di negara dengan banyak lautan ini sebagai warisan dari leluhur. Apakah Teman Traveler juga melakukan salah satu tradisi berikut ini?

Baca juga : Tak Perlu Keliling Indonesia, Objek Wisata di Jember Udah LENGKAP BANGET!

1. Metatah, Sebagai Wujud Kedewasaan

Mepades, mesanggih atau potong gigi adalah upacara keagamaan Hindu-Budha di Bali yang dilakukan jika seorang anak sudah menginjak umur dewasa, dan dapat juga diartikan pembayaran hutan oleh orang tua ke anaknya karena telah membunuh enam sifat dalam diri manusia yang kurang baik bahkan sering dianggap sebagai musuh dalam diri sendiri.

Tradisi Metatah di Bali via instagram @dikyadiwoso

Tradisi ini bukan berarti giginya dipotong habis, melainkan dikikir agar rapi. Keenam sifat buruk manusia ini dilambangkan dengan merapikan gigi pada rahang atas, yaitu empat gigi seri dan dua gigi taring kanan dan kiri. Biaya yang dikeluarkan untuk melakukan tradisi ini tidaklah sedikit, karena banyak keperluan yang harus dipersiapkan, seperti perlengkapan sesajen dan mengundang sanak saudara.

2. Ikipalin, Simbol Kesedihan Kehilangan Keluarga

Suku Dani merupakan suku yang mendiami pedalaman Papua, tepatnya di Lembah Baliem. Suku yang menggantungkan hidupnya dengan bercocok tanam dan beternak babi ini memiliki sebuah tradisi Ikipalin, atau memotong jari yang dipercaya sebagai simbol kesedihan saat kehilangan salah satu anggota keluarga mereka.

Tadisi Memotong Jari suku Dani via instagram @beyhanze

Tradisi ini dipercaya mencegah malapetaka yang telah merenggut nyawa salah satu anggota keluarga agar tidak terulang kembali. Adapun pemotongan jari ini hanya dilakukan oleh wanita, jadi jika Teman Traveler melihat seorang perempuan tua suku Dani kehilangan banyak jarinya, berarti dia telah kehilangan banyak anggota keluarganya.

3. Nasu Palek, Sebagai Bentuk Cinta

Jika perempuan dari Suku Dani melakukan Ikipali, pria di suku pedalaman Papua ini melakukan Nasu palek atau juga memotong telinga. Adapun pemotongan telinga ini tidak seluruhnya yang dipotong, hanya bagian daging telinga.

Tradisi Nasu Palek via Boombastis

Dengan menggunakan bambu yang sudah diiris tipis mereka melakukan pemotongan telinga. Setelah itu diikuti dengan mandi lumpur. Tradisi ini dilakukan untuk menyampaikan rasa sakit yang mendalam saat orang yang dicintainya meninggal.

4. Gigi Runcing, Kecantikan Wanita di Mentawai

Kecantikan bagi wanita merupakan hal yang sangat penting, pada Suku Mentawai, kepulauan Mentawai, Sumatera Barat ini meruncingkan giginya saat sudah beranjak dewasa. Semakin runcing gigi yang dikerik tingkat kecantikan akan semakin bertambah.

Gigi runcing Suku Mentawai via adira

Makna yang didapatkan dari mengerik gigi ini dipercaya tubuh, jiwa mereka dapat terjaga keseimbangannya, serta setiap kesakitan yang di derita akan membawanya dalam proses pendewasaan dan penemuan jati diri.

5. Adu Betis, Rasa Syukur Keberhasilan Panen

Di Sulawesi Selatan, sawah-sawah umumnya hanya panen sekali dalam setahun. Sebagai ucapan rasa syukur kepada pencipta, setiap pria di Maros melakukan tradisi adu betis.

Adu Betis di Oleh Pemuda Maros via intagram @backpakerjakarta.19

Tradisi ini dilakukan tidak di dekat makam Gallarang Moncongloe, leluhur desa Moncongloe. Uniknya, tidak ada pemenangnya, hanya untuk menunjukkan kekuatan peserta saja. Bahkan tidak sedikit peserta adu betis ini mengalami patah tulang. Meskipun begitu, tradisi ini tetap dinantikan oleh masyarakat Maros.

6. Pasola, Pertarungan Gladiator Ala Sumba

Sebelum masa tanam sawah, tradisi sakral yang diadakan setiap tahunnya di Kabupaten Sumba Barat, yaitu di Desa Kodi, Lamboya, Wonokaka dan Gaura. Pasola merupakan permainan pertarungan kuda dengan memegang sebuah lembing dengan ujung tumpul untuk dilemparkan.

Pasola di Sumba via instagram @kareka.sumba

Dalam tradisi gladiator ala Sumba ini terkadang ada pihak yang sampai meninggal dunia, Keadaan ini dipercaya sebagai tebusan atas dosa yang orang itu lakukan di dunia. Bahkan kabarnya, darah dari pemain pasola yang bercecer di sawah dapat menjadi berkah pada tanah yang akan ditanami dan menghindarkan penduduk dari mara bahaya.

7. Ojung, Tarian Memperkuat Hubungan Keluarga

Suku Tengger di Pasuruan, Jawa Timur, memiliki sebuah tradisi yang berupa perpaduan seni menari dan olahraga yang disebut Ojung. Berbekal cambuk rotan panjang sekitar 1 meter, dua lelaki dewasa bertelanjang dada, dengan iringan musik gamelan, saling beradu kekuatan bergantian adu sambetan.

Dua pria suku Tengger beradu sambetan via antarafoto

Tradisi yang kerap dilakukan di Desa Tosari ini memang terlihat memiliki unsur kekerasan, namun dipercaya dapat mempererat hubungan kekeluargaan dan juga menjauhkan hal-hal negatif yang memecah belah anatara sesama keturunan Tengger.

Tradisi diatas merupakan sebuah kepercayaan yang tidak dilakukan oleh masyarakat umum. Jika Teman Traveler sedang singgah di daerah dengan tradisi seperti diatas, baiknya menghormati apa yang mereka lakukan. Next

ramadan
Anak Gimbal Dieng

Anak-anak Rambut Gimbal, Pesona Budaya Dataran Tinggi Dieng

5 Tips Memilih Kamar Hotel yang Aman, Sambut Liburan Nyaman Bebas Cemas