in , , , ,

Istano Basa Pagaruyung, Arsitektur Megah Khas Minangkabau

Sebagai anak Nusantara mestinya melestarikan warisan budaya memang menjadi urgensi tersendiri bagi mereka penggiat antropologi. Terlebih mereka asli dari tanah Minangkabau, menjadi hak setiap etnis minangkabau yang bisa menjadi benteng terhadap pengaruh dunia luar. Salah satu bentuk warisan budaya material adalah beragam hias ukiran tradisional minangkabau dalam rumah Gadang.

Baca juga : Pulau Tegal Mas Lampung, Secantik ‘Maladewa’ dengan Kearifan Nusantara

Rumah Gadang Mingkabau, Istana Basa Pagaruyung. Foto via wikipedia.ac.id

Istano Basa yang berdiri sekarang sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istano Basa asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966.

Lokasi Istano Basa berada di daerah segitiga Kabupaten Agam, Lima Puluh Kota, dan Tanah Datar. Sesuai dengan namanya, istana ini mengabadikan kemegahan arsitektur dari pusat pemerintahan kerajaan. Meskipun wujud yang berdiri megah sekarang ini, bukanlah bangunan aslinya, namun berbagai detail ciri khas arsitektur yang dimiliki, masih sama seperti kondisinya di masa lampau.

Istana Basa Pagaruyung dengan kehijauan sekitar yang asri. Foto via riau1.com

Istano Basa Pagaruyung adalah kediaman dari Raja Alam, dan menjadi pusat pemerintahan kala itu. Meski kemegahan arsitektur seni pahatan tak luntur hingga saat ini. Istana tersebut merupakan replika dari bangunan asli, yang dibakar Belanda pada tahun 1804. Bangunannya berbentuk sebuah rumah panggung berukuran besar, dengan atap gonjong yang menjadi ciri khas dari arsitektur tradisional Minangkabau. Rumah panggung besar ini bertingkat tiga, dengan 72 tonggak yang menjadi penyangga utamanya.

Terdapat 11 gonjong, atau pucuk atap yang menghias bagian atas dari bangunan ini. Seluruh dinding bangunan dihiasi oleh ornamen ukiran berwarna-warni, yang secara total terdiri dari 58 jenis motif yang berbeda, indah bukan? Meski hanya replika, namun ukiran seni khas Minagkabau sungguh menakjubkan. Bagi teman traveler yang sedang mengunjungi daerah Sumatera Barat, memang sangat disayangkan jika kamu tidak mampir ke istana Basa.

Rumah adat dan pakaian adat Minangkabau. Foto via instagram @uciirhbdn

Bagi kamu yang berkunjung ke Istaan Basa Pagaruyung dapat menyewa pakaian adat Minang, sambil belajar pengetahuan tenatng Kerajaan Pagaruyung. Pakaian adat Minang yang didominasi warna merah, hitam, dan kuning. Warna-warna tersebut melambangkan wahana tigo atau tiga wilayah Minangkabau Museum. Tiket masuk istana cukup murah yakni Rp. 15.000 untuk wisatawan dewasa dan Rp. 7.500 untuk wisatawan anak anak. Namun untuk jam operasionalnya sejak jam 08.00 hingga 17.30 WIB. Next

ramadan

Air Terjun Tegenungan, Eksotisme Curug di Bali

Keunikan Curug Ibun Majalengka, Tebing Pengapit Air Terjun Yang Eksotis