in , , , , ,

Masjid Al Imtizaj, Masjid dengan Kultur Tionghoa di Bandung

Masjid yang Memiliki Unsur Tionghoa dalam Bangunannya Merupakan Simbol Toleransi yang Menghangatkan Jiwa

Gapura Masjid Al Imtizaj Bandung dengan Warna Khas Oriental (c) Lina Auliani/Travelingyuk

Ada yang unik dari bangunan tempat beribadah umat muslim yang ada di jalan Banceuy nomor 8, Bandung ini. Masjid ini berbeda karena memiliki warna yang mencolok yaitu kuning dan merah khas Tionghoa. Tempat ibadah ini diberi nama Masjid Al Imtizaj, yang artinya Pembauran. Setiap masjid memiliki nama dalam bahasa Arab yang dapat diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Jika Teman Traveler perhatikan, sekilas masjid ini bentuknya seperti Klenteng.

Baca juga : Bermalam di Balkondes Tuksongo Borobudur, Serasa Jadi Bangsawan dalam Semalam

Masjid Al Imtizaj yang Unik dari Sebrang Jalan (c) Lina Auliani/Travelingyuk

Masjid ini kurang lebih berkapasitas 100 hingga 200 orang. Cukup untuk warga muslim di sekitar jalan Banceuy ini karena tidak terlalu banyak perumahan yang ada di daerah ini. Beberapa pengendara motor atau pejalan kaki yang melewati jalan ini sengaja berhenti untuk beribadah di
sini sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya. Untuk menuju masjid ini Teman Traveler bisa berjalan kaki dari Pasar Cikapundung karena jaraknya hanya 98 meter saja. 

Area Paling Depan Masjid Al Imtijaz (c) Lina Auliani/Travelingyuk

Bangunan masjid ini sangat menarik perhatian karena kental dengan budaya Tionghoa. Teman Traveler bisa melihatnya di gapura masjid yang ditulis dengan huruf Mandarin dan di pintu masuk area sholat laki – laki ada lampion berwarna merah yang digantung sehingga sekilas tempat ini seperti tempat ibadah Khonghucu.

Area Tempat Duduk Laki-laki (c) Lina Auliani/Travelingyuk

Di teras masjid ini juga ada tempat duduk untuk laki – laki dan peremuan yang terpisah. Kalau dari gapura, tempat duduk laki – laki ada di sebelah kiri sedangkan tempat untuk perempuan ada di sebelah kanan dekat tangga menuju tempat sholat perempuan. Tempat duduk ini nyaman karena memiliki payung besar sehingga Teman Traveler tidak akan merasa kepanasan atau terkena air hujan.

Area Tempat Duduk Wanita (c) Lina Auliani/Travelingyuk

Seperti biasa, alas kaki wajib di lepaskan jika ingin memasuki masjid. Peringatan ini sudah tertulis ketika Teman Traveler akan memasuki gapura masjid. Ada yang unik lagi di tempat wudu laki-laki yaitu cawang yang memiliki keran air dan berwarna keemasan. Unik sekali bukan? Warna keemasan ini juga sangat identik dengan budaya Tionghoa. Wudu artinya membasuh sebagian anggota badan sebelum melakukan sholat. Di setiap
masjid, tempat wudu maupun sholat laki – laki dan perempuan selalu terpisah.

Cawang Berwarna Keemasan di Area Laki-laki (c) Lina Auliani/Travelingyuk

Tempat sholat perempuan ada di lantai dua bangunan masjid ini. Bagian dalam bangunannya juga beraksen Tionghoa dengan warna kuning, merah dan hijau. Tidak jauh berbeda dengan tampilan depan masjid.

Tangga Menuju Area Sholat (c) Lina Auliani/Travelingyuk

Sejauh ini tidak ada pendapat warga yang bertolak belakang dengan ide interior bangunan masjid ini karena masih sesuai dengan ketentuan Islam. Justru sebaliknya, bangunan ini menarik perhatian sehingga kaum muslim
menyempatkan untuk beribadah di tempat ini. Bangunan masjid ini juga
membuktikan kalau Islam bisa berbaur. Hal tersebut terlihat dari bangunannya yang bisa dipersatukan dengan budaya Tionghoa.

Area Sholat Perempuan Masjid Imtizaj (c) Lina Auliani/Travelingyuk

Pada tanggal 6 Agustus 2010 Masjid Al Imtizaj diresmikan dan dibuka untuk umum. Selain sebagai tempat ibadah, masjid digunakan juga untuk memberikan pembinaan dan pusat informasi bagi mualaf atau mereka yang berminat menjadi seorang muslim. Masjid ini sengaja dibuat untuk warga Tionghoa yang menganut Agama Islam agar mereka masih tetap bisa
merasakan budayanya melalui bangunan yang menyerupai Klenteng ini. Sebuah gagasan yang menarik ya Teman Traveler Next

ramadan

Puncak Segoro, Wisata Baru di Jogja untuk Nikmati Sunset yang Indah

Warung Men Darta, Sedia Babi Genyol di Lokasi Bernuansa Bali Tradisional