in , , ,

Tips Mendaki Gunung Panderman Bagi Pendaki Pemula

Perhatikan Tipsnya dan Mendakilah dengan Aman dan Nyaman

Pemandangan dari atas Gunung Panderman (c) Muhammad Sabilurrosyad/Travelingyuk

Malang adalag wilayah paling menggoda bagi penggila gunung. Alasannya, karena ada banyak gunung yang mengelilingi daerah Malang. Mulai dari Gunung Bromo, Arjuna, Welirang, Kawi, Butak, Panderman, hingga gunung yang jadi koleksi wajib bagi para pendaki, yaitu Gunung Semeru dengan segala kebesarannya.

Baca juga : 5 Es Legendaris Semarang, Kesegaran dan Kelezatannya Tak Lagi Diragukan

Namun mendaki gunung bukanlah sautu aktivitas yang mudah. Jangan menganggap aktivitas ini sebagai ajang keren-kerenan dan pamer di sosial media, karena aktivitas ini nyawa adalah taruhannya. Perlu persiapan matang, mulai dari mengatur peralatan dan logistik, hingga mencari pengalaman di gunung-gunung yang lebih mudah sebelum menjajal gunung berketinggian luar biasa.

Bagi warga Malang Raya sangat disarankan untuk memanfaatkan gunung yang ada dikawasan ini. Sebelum berambisi mendaki Gunung Semeru dan Arjuna, cobalah mendaki Gunung Panderman terlebih dahulu untuk belajar persiapan mencari pengalaman.

Meski ketinggiannya tidak seberapa, gunung ini akan memberikanmu pelajaran berharga soal dunia mendaki. Jika yang dicari adalah view, Gunung Panderman juga punya loh. Jadi jangan merasa rugi untuk belajar sesuatu dengan tahapan yang berjenjang, termasuk soal mendaki dengan pilihan gunungnya. Simak ulasan berikut untuk mulai belajar mendaki dari gunung yang tidak terlalu tinggi.

Meski Tidak Begitu Tinggi, Gunung Tetaplah Gunung

Medan Perjalanan di Gunung Panderman (c) Muhammad Sabilurrosyad/Travelingyuk

Gunung Panderman yang terletak di Kota Batu ini berketinggian 2.045 mdpl. Jelas angka ini berbanding jauh dengan Gunung Arjuna yang mencapai 3.345 mdpl hingga Gunung Semeru sebagai Gunung tertinggi di Jawa dengan 3676 mdpl. Namun Gunung tetaplah Gunung, tinggi rendahnya tidak memiliki perbedaan berarti sebagai tempat alami yang penuh tantangan.

Gunung Panderman memiliki jalan curam dengan kemiringan yang bisa mencapai 45 derajat. Sekecil apapun gunungnya, keselamatan tetap bukanlah hal yang diremehkan. Dari sini mungkin Teman Traveler akan belajar bahwa Panderman saja punya medan yang merepotkan, bagaimana dengan gunung lainnya.

Walaupun begitu, Panderman tetap merupakan tempat terbaik untuk belajar mendaki, khususnya bagi Teman Traveler yang ada di wilayah Malang Raya. Kemiringan yang ada termasuk wajar dan akan membuat Teman Traveler mempunyai tolak ukur kekuatan fisik seperti apa yang dibutuhkan dalam mendaki dan tentunya persiapan mental akan medan pendakian harus benar-benar disiapkan.

3-4 Jam Menuju Puncak, Tempat yang Baik Untuk Melatih Mental

Pemandangan dari Puncak Basundara (c) Muhammad Sabilurrosyad/Travelingyuk

Durasi memang menyesuaikan kemampuan masing-masing individu, tapi umumnya waktu tempuh mencapai puncak Gunung Panderman mencapai 3-4 jam, tentu bisa lebih cepat jika fisik Teman Traveler prima, juga bisa lebih lama jika fisik dan mental tidak terbiasa.

Tapi jika konteksnya untuk belajar, durasi ini sangat membantu melatih mental pendaki. Walaupun sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi kadang mental yang terus memberi pertanyaan “kapan nyampe puncak” atau “masih lama engga” benar-benar membuat kondisi mentalmu memperngaruhi kondisi fisik. Selain itu, seberapa dekat atau sebentarnya jarak tempuh tetap tidak terasa beda dan akan tetap terasa berat.

Rute perjalanan Gunung Panderman cukup jelas, patuhi saja rambunya. Tetap akan terasa berat untuk pemula, tapi resikonya tidak lebih besar daripada gunung-gunung besar yang ingin Teman Traveler tuju selanjutnya, jika tidak kapok naik gunung.

Dengan durasi ini, Teman Traveler bisa saja mengatur perjalanan pulang dan pergi dalam saru hari, tidak perlu berkemah. Tapi direkomendasikan untuk berkemah semalam, demi memulihkan fisik, dan disarankan untuk tidak balapan dengan waktu. Toh pemandangan alam Gunung Panderman tidak kalah menarik untuk dinikmati. 

Melatih Mengukur Efisiensi Penggunaan Logistik

Sumber Air yang Tersedia (c) Muhammad Sabilurrosyad/Travelingyuk

Sumber air di Gunung Panderman hanya di satu titik, itupun diawal persimpangan antara jalan menuju Gunung Panderman dan Gunung Butak, tepat sebelum jalan mulai mendaki. Setelah itu, tidak ada lagi sumber air. Perjalanan ini akan memberi pengalaman bagaimana mengatur logistic seperti mengontrol tubuh agar tahu kapan waktunya minum dan usahakan jangan terlalu boros minum. Bukan cuma soal minum, air juga perlu dipertimbangkan dalam keperluan masak memasak nantinya.

Begitupun soal makanan. Mungkin setelah melakukan pendakian di Panderman, Teman Traveler jadi punya gambaran lebih baik lagi di pendakian selanjutnya. Entah Teman Traveler merasa terlalu banyak membawa makanan yang mubazir atau justru terlalu sedikit membawa perbekalan.

Hati-Hati Kawanan Monyet, Mengingatkanmu Bahwa Gunung Tetaplah Rumah bagi Makhluk Hidup Lain

Kera Putih yang Langka (c) Muhammad Sabilurrosyad/Travelingyuk

Gunung Panderman terkenal juga karena keberadaan kera-keranya, maka berhati-hatilah. Ini juga berhubungan dengan makanan atau logistic dimana makanan yang Teman Traveler bawa akan memancing perhatian para kera. Ada banyak cerita soal pendakian Panderman mengenai rebutan makanan antara manusia dan kera. Memang tidak semua pendaki bertemu kera ini, tapi tetap berhati-hatilah, karena kera-kera ini bisa jadi aspek paling berbahaya di Gunung Panderman.

Dengan adanya kera ini, sebenarnya bisa diambil sisi positifnya. Hal ini akan menjadi pengingat, bahwa gunung bukanlah taman rekreasi yang minim resiko. Gunung tetaplah alam liar, yang penuh dengan binatang sebagai penghuninya, entah itu kera, ular, hingga macan, hal ini perlu diingat baik-baik.

Bukan cuma binatang, begitupun tumbuhan yang merupakan makanan dari binatang-binatang tersebut. Jika tumbuhan dan makanan mereka ini dirusak, mereka kehilangan sumber makanannya. Sehingga, wajib diingat untuk membawa pulang sampah yang dibawa mendaki. Jangan sampai ada yang tersisa ya karena sampah sekecil apapun bisa merusak ekosistem alam.

Teman Traveler boleh saja mendaki gunung dengan berbagai tujuan yang dianggap positif. Tapi walau bagaimanapun gunung tetaplah tempat liar yang juga merupakan rumah bagi makhluk lain. Pendakian gunung ini bisa mengajarimu banyak hal sebagai pemula. Mulai dari pengalaman mendaki, mengatur logistik, hingga bagaimana etika dalam beraktivitas di alam seperti sampah dan cara berhadapan dengan binatang liar.

Mendaki gunung akan selalu menjadi aktivitas yang berbahaya, serendah berapapaun mdplnya. Jadi jangan remehkan gunung manapun, termasuk Gunung Panderman ini. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi Teman Traveler yang akan mulai mendaki. Next

ramadan

Penulis adalah kontributor lepas di travelingyuk.com

Tapiary Karakter Binatang ala Taman Bunga Nusantara, Spot Foto Indah dan Keren

Gaya Liburan Modis ala Rafathar yang Bikin Terkagum-kagum