in , ,

Waduh, Bunga Rawa di Ranca Upas Luluh Lantak Dampak Event Motor Trail

Keindahan alam memang rentan kerusakan bila sudah terkena campur tangan program manusia. Salah satunya yang baru-baru ini terjadi adalah event Camping Adventure Explore Ranca Upas 2023 yang melibatkan ratusan peserta motor trail.

Baca juga : Destinasi Digital Nomad di Asia Tenggara, Bukti Digitalisasi Hampir Merata

Bukan hanya kondisi lahan bunga rawa yang rusak berat, tetapi juga para petani sekitar yang kecewa dan marah. Usut punya usut, ternyata acara tersebut memang tidak jelas bagi peserta yang mengikutinya. Akibatnya, banyak peserta yang melintasi dan menginjak sembarang area.

bunga rawa ranca upas

Hal ini setelah perwakilan salah satu anggota Komunitas Motor Trail Gatett Costem, Rian, menjelaskan kondisi ketika ia dan kawanannya berada di waktu dan lokasi. Inti permasalahannya adalah tidak ada panitia yang berada di lokasi, padahal jalur yang tersedia sudah tidak jelas bentuknya.

Hal ini membuat peserta jadi menginjak dan melintasi sembarang area. Apalagi kondisi mereka yang saat itu kelelahan karena dengan uang pendaftaran Rp200 ribu, mereka tidak mendapatkan konsumsi apa-apa.

Edelweis rawa via Tempo

Panitia dan warga juga ternyata belum ada koordinasi. Sehingga tentunya hal ini ikut berdampak bagi warga yang ada di sekitar. Manager Site Kampoeng Cai Ranca Upas, Argo Wibowo, menjelaskan bahwa area yang paling terdampak sebenarnya adalah Camping Ground Savana.

Hanya saja, di lokasi juga terdapat rawa dengan bunga edelweiss yang termasuk lahan konservasi. Namun menurutnya, saat ini sudah mulai dikondisikan oleh tim dan masyarakat yang menanaminya kembali.

bunga rawa ranca upas
Pengelola melakukan penanaman edelweis rawa via Pikiran Rakyat

Sementara itu, kasus ini diunggah di Twitter sehingga menyulut kritik dan amarah netizen. Sebab terpicu oleh potongan video yang menunjukkan kekecewaan para petani yang membuat pilu melihatnya.

Beberapa waktu lalu, ada video tentang petugas KLHK yang lantang menyuarakan hak hidup dan lintasan gajah karena segolongan masyarakat yang geram satwa itu masuk lingkungannya. Bahkan mereka berniat ‘menyingkirkannya’ seperti hama. Padahal gajah termasuk satwa yang perlu dilindungi.

Fenomena manusia yang sebenarnya ‘mengusik’ kelestarian alam ini sangat banyak sesungguhnya, hanya saja baru belakangan mencuat dengan bantuan media. Memang menjadi hal miris, karena tempat yang menjadi rumah manusia atau kawasan wisata, mungkin dulunya adalah rumah satwa-satwa tersebut atau menjadi wilayah perlindungan bagi tumbuhan dan hewan yang perlu dilindungi. Next

ramadan
PASTY Jogja

Ajak Keluarga ke PASTY, Pasar Satwa dan Tanaman Hias di Jogja

Agrowisata Dilem Wilis Trenggalek

Menyeruput Kopi Khas Desa Dompyong di Agrowisata Dilem Wilis Trenggalek