in ,

Cerita Pendakian Gunung Bungsu, Wisata di Payakumbuh yang Magis

Gunung Bungsu
Gunung Bungsu

Gunung Bungsu, ada yang pernah dengar sebelumnya? Mungkin bagi anda masyarakat payakumbuh dan Lima Puluh Kota sudah tidak asing lagi. Gunung Bungsu  berada di kawasan Payakumbuh, Kenagarian Taeh Bukik, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Baca juga : Pilihan Destinasi Wisata Vania Herlambang, Wakil Indonesia di Miss International 2018

Dari pusat kota Payakumbuh, jaraknya hanya sekitar 14 – 15 Km. Anda cukup mengikuti petunjuk jalan atau bertanya kepada warga sekitar jika tidak ingin tersesat. Jalan menuju lokasi Taeh Bukik sudah cukup bagus dan mulus, sayangnya kendaraan umum tidak begitu banyak untuk menuju lokasi ini.

Sepanjang perjalanan menuju Gunung Bungsu anda akan disuguhkan hamparan sawah dan perumahan warga. Sesampainya di penghabisan aspal, anda sudah mulai menyiapkan diri untuk naik keatas dengan berjalan kaki. Namun apabila kondisi tanah sedang keras, bisa menggunakan sepeda motor. Namun tidak saya sarankan untuk pemula karena resiko lumayan tinggi.

Jika ingin berjalan anda bisa menitipkan kendaraan di tempat yang telah disediakan. Gunung Bungsu ini merupakan gunung yang tidak terlalu tinggi jadi cocok bagi pendaki pemula. Tak hanya untuk para pendaki, gunung ini juga tempat latihan para pecinta paralayang. Apabila sore hari tempat ini mulai diramaikn oleh para atlit untuk latihan. Nah untuk kamu yang ingin berkemah, disarankan untuk datang sore hari. Karena anda akan mendapatkan sunset, suasana lampu kota dan sunrise dipagi hari.  Tiga momen bisa anda dapatkan sekaligus.

Saya dan teman-teman bertolak dari Bukittinggi sekitar pukul 16:00 WIB, namun karena ada bebrapa kendala maka tibalah kami jam 21:00 WIB. Yaa…perjalanan yang sangat lama dikarenakan beberapa faktor yang tak pernah terduga sebelumnya.

Karena kondisi tanah tidak memungkinkan untuk dilewati sepeda motor kami memulai trekking pada pukul 21:30 WIB dan sampai sekitar pukul 23:00 WIB. Capek? pastinya.. Jalanan yang berlumpur dan menanjak kerap kali membuat badan tidak seimbang sehingga saya dan teman-teman terpleset.

Lampu-lampu yang terlihat dari ketinggian serta kabut tipis yang menyelimuti daerah sekitar menambah syahdu malam pada saat itu. Hilang pula lah lelah saat diperjalanan. Tak terasa malam semakin larut dan dingin pun mulai menusuk ke tulang.  Satu persatu kami mulai masuk ketenda. Sekitar pukul 03:00 dini hari sudah sepi karena kedinginan.

Pukul 05:00 pagi kami mulai bangun dan mulai melakukan aktivitas. Ada juga yang masih didalam tenda. Karena cuaca hari itu cukup bersahabat, kami disambut dengan sunrise dan kabut pagi yang membuat sekujur tubuh kedinginan. Baju dan jaket tebal pun dibuat berlapis agar tubuh tak kaku kedinginan.

Sekitar Pukul 06:00 kabut mulai berganti dengan awan… Samudera diatas awan pun menyambut kami pada hari itu. Tak puas sampai disitu. Saya dan teman-teman kembali melanjutkan perjalanan untuk sampai kepuncak. Semula saya kira hanya tanah dan bebatuan atau jalan setapak. Tapi semua diluar dugaan. Sekitar 5 menit menelusuri hutan, kami disambut anak tangga yang terbuat dari kayu. Kembali saya menduga hanya sedikit dan ternyata, sampai kepuncak kami melewati tangga seperti itu saja. Medan yang curam membuat kami kelelahan. Anak tangga dibuat untuk memudahkan para pengunjung serta memberikn kesan lebih aman karena medan yang lumayan terjal.

Pukul 07:00 kami sampai di puncak. Lagi dan lagi rasa lelah hilang disambut matahari dan samudera diatas awan yang sangat indah. Di tambah lagi gagahnya Gunung Sago membuat para penikmat berkali-kali mengucapkan syukur tak terhingga. Namun sayang pada saat itu saya kurng mood untuk mencari angle dn memilih untuk menikmati suasana. Hingga hanya mendapatkan hasil yang seadanya saja..hehe. Hingga matahari mulai terik pun kami masih betah berada di atas puncak. Batu- batu besar yang rata kami jadikan bak kasur untuk meluruskan badan.

Sekitar pukul 09:00 WIB kami kembali ketenda, perjalanan pulang lebih cepat dari pada saat naik ketas. kami kembali ketenda, dan mulai meracik untuk sarapan karena perut sudah mulai terasa keroncongan.

Setelah sarapan sembari mengobrol, tak terasa jam menunjukan pukul 10:30 WIB kami pun mulai mengemasi barang dan mememungut sampah-sampah. Sekitar pukul 11:00 WIB kami turun kebawah.  Kembali menuju Bukittinggi dan kami pun berpisah pulang kerumah masing-masing. Next

ramadan
fi jalan-jalan ke luar angkasa

Jalan-jalan ke Ruang Angkasa Kini Menjadi Nyata, Hanya Butuh 1,5 Jam

fi heha ocean view

Heha Ocean View di Jogja, Wisata Swafoto di Pinggir Lautan