in ,

Kampung Adat Bena di NTT, Melestarikan Budaya Nenek Moyang Sejak 1200 Tahun Lalu

Kampung Adat Bena di Nusa Tenggara Timur, Berwisata Sembari Mengagumi Budaya Indonesia

Terkenal dengan Desa Adat Wae Rebo yang menjadi Warisan Budaya Asia-Pasifik UNESCO, Nusa Tenggara Timur juga memiliki desa atau kampung adat lain. Sama-sama luar biasa, Kampung Adat Bena yang berada di sebelah timur Desa Wae Rebo mempunyai daya tarik tersendiri. Ia diperkirakan sudah ada sejak 1.200 tahun lalu, sekaligus menjadi salah satu desa atau kampung adat tertua di NTT. Keren bukan? Berikut ulasannya yang sudah dipersiapkan Travelingyuk.

Baca juga : Menginap di Hotel? Jangan Letakkan Bajumu di Sini

1. Sudah Ada Sejak 1200 Tahun Lalu

Kampung Adat Bena di NTT yang Pesonanya Bertahan Sejak 1.200 Tahun Lalu via Instagram/ betweentwotrees

Kampung Adat Bena di Nusa Tenggara Timur, sudah ada sejak 1.200 tahun lalu. Ia menjadi salah satu kampung yang masih mempertahankan adat dan budaya setempat sejak dulu kala. Masyarakatnya hidup dengan warisan budaya dan kepercayaan dari para leluhur. Keistimewaan ini lah yang membuat Kampung Bena punya daya tarik tersendiri. Destinasi wisata budaya ini tepatnya berada di Desa Tiworiwu, Kecamatan Jarebuu, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

2. Terdapat Sembilan Suku dalam Satu Kampung

Ditinggali oleh Masyarakat dari Sembilan Suku via Instagram/ jechsontiwu

Kampung Bena berada di kaki Gunung Inerie yang memiliki tinggi 2.245 mdpl. Di sini tinggal sekitar 326 jiwa yang merupakan gabungan dari 120 keluarga. Masing-masing mendiami 45 rumah dan berasal dari sembilan suku yang berbeda. Yaitu Suku Bena, Suku Ngada, Suku Ago, Suku Khopa, Suku Dizi, Suku Wahto, Suku Dizi Azi, Suku Deru Lalulewa, dan Suku Deru Solamae.Setiap suku meninggali undakan yang berbeda. Suku Bena, dianggap sebagai yang paling tua dan pendiri kampung, menempati undakan yang ada di bagian tengah.

3. Bangunan Rumah Menggambarkan Sisa Peradaban Megalitikum

Terdapat Banyak Batu di Lingkungan Kampung, Sisa Peradaban Megalitikum via Instagram/ jechsontiwu

Tidak lepas dari simbol-simbol, rumah-rumah yang ada di Kampung Adat Bena juga menggambarkan sisa peradaban Megalitikum. Dihiasi tanduk kerbau serta taring babi hutan sebagai penanda status sosial, di setiap rumah terdapat susunan batu gunung.

Nga’du dan Bha’ga di Tengah Desa Bena via Instagram/ arismanto765

Pada bagian tengah kampung juga terdapat Nga’du (batu runcing yang menjulang) dan Bha’ga; simbol hubungan kekerabatan dengan leluhur; sebuah simbol yang kemudian menjadi budaya dan bagian masyarakat Bena sejak lama.

4. Kaya dengan Simbol-simbol Adat dan Budaya

Desa Membentuk Perahu, Menyimbolkan Sesuatu yang Besar via Instagram/ bang_tora

Terletak di Pulau Flores, sekitar 18 Km dari Kota Bajawa, masyarakat Kampung Adat Bena hidup dengan simbol-simbol budaya. Dimulai dari bentuk perkampungan dengan panjang 375 meter dan lebar 80 meter yang berundak-undak serta mirip perahu. Masyarakat Bena memercayai bahwa perahu adalah sarana yang dapat membawa arwah ke tempat peristirahatan terakhir. Perahu juga menyimbolkan kerja keras serta gotong royong.

5. Masyarakat Kampung Adat Bena Sederhana dan Ramah pada Para Pengunjung

Kehangatan Masyarakat Kampung Adat Bena di NTT via Instagram/ quintina_maria

Kehidupan masyarakat di Kampung Adat Bena NTT sangat sederhana. Umumnya, mata pencaharian penduduk kampung, terutama laki-laki adalah berladang. Seperti menanam jagung, umbi dan kacang. Penduduk di sini juga menanam kopi dan kemiri.

Masyarakatnya Juga Menghasilkan Kopi via Instagram/ larenasirch

Sementara itu, kaum perempuan menghabiskan waktunya untuk menenun serta menjual hasil tenunannya pada para wisatawan yang datang, atau dikirimkan ke Kota Bajawa. Mereka terbuka dan ramah pada para pengunjung.

Tertarik mengunjungi Kampung Adat Bena di NTT? Teman Traveler harus lebih dulu sampai ke Kupang. Setelah itu, lanjutkan perjalanan ke Kota Bajawa. Dari Bajawa, gunakan jasa ojek untuk sampai di Kampung Bena. Silakan datang dari pukul 08.00 hingga 17.00 WITA ya. Isi buku tamu lalu berdonasi sebaik-baiknya. Jangan lupa bawa baju hangat, karena suhu di Kota Bajawa cukup dingin. Next

ramadan
Hotel Aston Banyuwangi, Tempat Menginap Instagenic yang Mengusung Budaya Lokal

Aston Banyuwangi, Hotel Instagenic yang Tak Meninggalkan Budaya Lokal

Omah Munir di Kota Batu Siap Jadi Museum HAM Pertama di Asia Tenggara, Wisata Edukasi Tentang Pentingnya Hak Asasi