in , ,

Keraton Jogjakarta, Singgasana Sultan Penuh Makna

Menjelajah Tiap Sudut Penuh Makna di Keraton Jogjakarta

Keraton Jogjakarta
Keraton Jogjakarta (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Sejak bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia sekitar 1950, Jogjakarta langsung ditetapkan sebagai daerah istimewa. Sistem pemerintahan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat tetap bisa dipertahankan, asalkan tidak bertentangan dengan republik. Alhasil, keberadaan komplek Keraton Jogjakarta menjadi sesuatu yang unik, bahkan menjadi salah satu objek wisata populer.

Baca juga : Kelaba Madja, Tebing Batu Eskostis yang Dibentuk Alam

Sekilas Keraton

dscf4937_LFg.jpg
Sri Sultan Hamengkubuwono X (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan Istana Kesultanan Jogja. Komplek bangunannya juga sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal Sultan dan keluarganya, yang hingga masih terus menjunjung tinggi tradisi Jawa. Sebagian kecil wilayah Keraton juga dibuka untuk umum sebagai objek wisata.

Seluruh bangunan Keraton sudah berstatus sebagai cagar budaya. Kompleknya terdiri dari serangkaian ruang dan bangunan yang masing-masing memiliki nama, fungsi, serta vegetasi khusus. Area terbuka biasanya disebut pelataran. Tiap-tiap pelataran dihubungkan dengan regol atau gerbang pembatas.

dscf4888_GmN.jpg
Sitihinggil (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Bangunan di masing-masing pelataran terdiri dari dua tipologi, dikelompokkan berdasarkan struktur penyangga atap. Tipologi pertama adalah bangsal, bangunan dengan deretan tiang sebagai struktur penyangga. Dengan kata lain, tidak ada dinding sama sekali.

Sementara untuk tipologi kedua adalah gedhong, yang menggunakan dinding sebagai struktur penyangga atap. Dinding-dinding tersebut terbuat dari dua material, kayu dan batu bata.

Kawasan Inti Keraton Yogyakarta

dscf4904_S07.jpg
Regol Brojonolo (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Kawasan inti Keraton Jogjakarta terdiri dari tujuh rangkaian plataran, mulai Alun-Alun Utara hingga selatan. Beberapa di antaranya adalah Pagelaran dan Sitihinggil Lor, Kamandungan Lor, Srimanganti, Kedhaton, Kemagangan, Kamandungan Kidul, serta Sitihinggil Kidul.

dscf4885_1LO.jpg
Sitihinggil (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Perlu Teman Traveler ketahui, komplek Keraton memiliki dua loket. Pertama ada di Museum Siti Hinggil dan satu lagi di Tepas Pariwisata Keraton. Kebanyakan pengunjung biasanya masuk ke lewat museum dan menghabiskan waktu di sekitar Pagelaran, Sitinghinggil Lor, hingga Regol Brojonolo yang menghubungkan Plataran Sitihinggil Lor dengan Plataran Kamandungan Lor.

Bagian Penuh Makna

dscf4874_L3d.jpg
Pagelaran dari sisi barat (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Begitu memasuki Keraton, Teman Traveler akan disambut bangsal pagelaran yang digunakan untuk menggelar upacara adat. Kawasan ini pernah dipugar pada 1934 oleh Sultan Hamengkubuwono VIII. 

dscf4875_85X.jpg
Tiang-tiang penyangga Pagelaran (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Motif lantainya berbentuk bintang delapan. Bangsal pagelaran ini juga memiliki tiang penyangga sebanyak 63 buah, sesuai usia wafat Nabi Muhammad jika dihitung berdasarkan kalender Masehi.

Tiang-tiang bangsal tersebut juga mengandung simbol agama. Misalnya saja, di bagian atas terdapat motif bunga lotus yang merupakan lambang Agama Hindu. Selain itu masih ada bunga teratai dan alat baca Quran yang masing-masing melambangkan Agama Budha dan Islam.

Bangsal Pacikeran, Tempat Algojo

dscf4952_Ecq.jpg
Bangsal Pacikeran (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Berjalan ke bagian belakang, Teman Traveler akan menemukan dua bangsal kecil di sisi kiri dan kanan. Bangsal yang disebut Pacikeran ini digunakan sebagai tempat berdiam diri para abdi dalem yang sekaligus bertugas sebagai algojo.

Tugas utama mereka adalah menunggu perintah untuk membunuh penjahat. Bangsal Pacikeran sengaja dibuat pendek agar semua algojo hanya dapat duduk di dalam bangsal dan menghormati para tamu yang datang, sehingga mereka takkan semena-mena.

Bagaimana Teman Traveler, tertarik mampir ke Keraton Jogjakarta? Kalian bisa datang tiap hari, mulai pukul 09.00 – 14.00. Tiketnya juga cukup murah kok, untuk wisatawan lokal hanya ditarik biaya Rp7.000, sementara wisatawan asing Rp15.000. Jika ingin berfoto, kalian harus membayar Rp1.000 ekstra untuk tiket izin dokumentasi. Next

ramadan
The Square Hotel

The Square Hotel di Surabaya, Nyaman Mulai 200 Ribuan

Tips Cegah Hipotermia, Jangan Sampe Liburan Jadi Petaka!