in , ,

Sejarah Penambangan di Open Pit Nam Salu Belitung

Penambangan Belitung
Penambangan Belitung

Open Pit Nam Salu Gunung Kik Karak di Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur (Beltim) merupakan jejak sejarah penambangan yang kini sudah menjadi destinasi wisata. Di masanya Open Pit merupakan tambang timah terbesar di Asia Tenggara.

Baca juga : Menikmati Segarnya Air Terjun Tiu Kelep Air, Wisata di Kaki Gunung Rinjani

C:\Users\User\Pictures\2017\Belitong SSR (March 2017)\20170316_111345.jpg
Penambangan di Open Pit Nam Salu (c) Helga/Travelingyuk

Menilik sejarah ke belakang tambang Open Pit, diceritakan oleh seorang guide lokal Belitung Timur, cadangan timah di Nam Salu pertama kali ditemukan melalui ekplorasi dikelola oleh perusahaan asal Australia, PT Broken Hill Propriety Indonesia (BHPI).

BHPI beroperasi hingga tahun 1983. Hingga tahun 1979, PT BHPI sedikitnya telah menggelontorkan investasinya senilai US$ 14,5 juta. Pada masa itu katanya PT BHPI kesulitan mencari penambahan dana sebesar US$ 10 juta untuk meneruskan usaha pengeringan. Akhirnya pada tanggal 30 Juni 1983, PT BHPI memutuskan untuk menutup tambangnya.

Penambangan di Open Pit Nam Salu (c) Helga/Travelingyuk

Kemudian atas persetujuan pemerintah, pada tanggal 1 Mei 1985, Preussag Metal AG, perusahaan asal Jerman Barat mengambil alih saham PT BHPI. Kemudian usaha tambang dalam Kelapa Kampit kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bendera PT Preussag Kelapa Kampit.

Penambangan di Open Pit Nam Salu (c) Helga/Travelingyuk

Open Pit ini disebut unik karena kawasan yang dulunya merupakan area tambang timah ini merupakan tambang dalam, bukan tambang semprot seperti kebanyakan tambang timah di Bangka Belitung. Selain itu di area Open Pit ini terdapat sebuah danau besar yang  letaknya   dalam cekungan
raksasa, kemudian ada juga gua bekas penambangan yang bisa ditelusuri. Danau di Open Pit ini tidak terlihat dasarnya gais, denger-denger dalemnya sih 30-50 meter. 

Penambangan di Open Pit Nam Salu (c) Helga/Travelingyuk

Yang bikin kerennya lagi dari tempat ini adalah karena pantulan airnya berwarna hijau turquois. Dikelilingi oleh batuan cadas yang telah ditambang sehingga memberi tekstur yang luar biasa. Oh iya teman teman, dikarenakan tanah yang berada di sekeliling open pit ini masih sangat lembut seperti es krim.

Penambangan di Open Pit Nam Salu (c) Helga/Travelingyuk

Kalian harus hati-hati untuk tidak berada di pinggirannya banget, karena dikhawatirkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Kalau kalian terpeleset, terjatuh ataupun nyemplung ke danau indah yang dalam ini, makanya hati-hati ya! Jangan nekat-nekat buat dapet selfie yang keren. Utamakan kesalamatanmu, terutama jika foto foto disini

Penambangan di Open Pit Nam Salu (c) Helga/Travelingyuk

Kalau nanti kalian berhasil kesini, perhahatikan deh kalau Danau Open Pit ini dikelilingi bukit batuan cadas. Hal inilah yang semakin menambah keindahan bukit tersebut. Apalagi bebatuan itu dilengkapi dengan pepohonan dan rerumputan yang tumbuh subur sekali.

Penambangan di Open Pit Nam Salu (c) Helga/Travelingyuk

Kalau boleh cerita sedikit, pekerjaan utama masyarakat Belitung dulunya adalah penambang timah, tentu saja sekarang juga beberapa masyarakat masih ada yang terfokus sama pekerjaan yang paling menjamin kehidupan anak dan istri tersebut. Namun sesungguhnya kan mau sampai kapan kita menguak hasil alam bumi kita yang tinggal sedikit?

Penambangan di Open Pit Nam Salu (c) Helga/Travelingyuk

Karena memang masih sedikit yang sadar bahwa melakukan pertambangan timah terus menerus akan berakibat buruk pada alam kita, oleh karena itu sebenarnya pariwisata hadir untuk bisa dijadikan alternatif untuk mencari nafkah disini. Nah hadirnya Open Pit ini adalah sebagai salah satu geosite dalam pengembangan GEOPARK BELITUNG sudah seharusnya menjadi objek wisata yang dibuka untuk pariwisata sekaligus membuka lapangan pekerjaan di bidang pariwisata.

Penambangan di Open Pit Nam Salu (c) Helga/Travelingyuk

Semoga nantinya pariwisata di Open Pit Namsalu ini akan terus berkembang dan membuat masyarakat lokal sadar untuk berhenti menggerogoti hasil bumi dan mulai beralih ke sektor pariwisata demi melestarikan alam ini supaya tidak terus rusak dieksploitasi. Next

ramadan

Written by Helga Christina

Penulis adalah kontributor lepas di travelingyuk.com

Keraton Solo

Keraton Surakarta dan Mata Air Awet Muda

Soto Babat di Balitar

Soto Babat Pak Sumaji, Kuliner Enak di Blitar Dimasak dengan Kuali