in , ,

7 Tradisi Bali ini Tidak Diadakan Setiap Saat, Catat Waktunya Biar Tidak Ketinggalan!

Catat tanggalnya biar gak ketinggalan info!

Bali memiliki beberapa tradisi unik yang tidak dilaksanakan setiap saat. Meskipun demikian, karena bersifat kolosal dan melibatkan semua elemen masyarakat, tradisi ini bisa disaksikan untuk umum. Untuk Teman Traveler yang suka mendokumentasikan tradisi unik dan langka, berikut 5 tradisi budaya Bali yang harus kalian saksikan.

Baca juga : Gardu Pandang Laba-laba Magelang, Sekali ke Sini Enggak Mau Pulang

1. Perang Ketupat/Siat Tipat

Tradisi Siat Tipat Via Instagram/explorebadung
Tradisi Siat Tipat via Instagram/explorebadung

Tradisi yang satu ini diadakan di Desa Adat Kapal, Mengwi, Badung. Seperti namanya, tradisi ini menggunakan sarana ketupat. Tujuannya untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada Tuhan atas berkah yang sudah diberikan.

Sebelum ritual dilakukan, masyarakat desa mengawalinya dengan persembahyangan bersama. Kemudian, warga membagi diri menjadi dua kelompok. Perang Ketupat dilaksanakan di depan Pura Desa lan Puseh, tepatnya di jalan Raya Kapal. Ketupat yang digunakan sebelumnya sudah dipersembahkan dalam sebuah upacara yang disebut ‘Ngusaba Jelih Lambih’.

Perang Ketupat ini tidak berlangsung lama, yaitu sekitar 15 menit. Pelaksanaannya dilakukan setahun sekali, tepatnya pada hari Purnama Kapat, atau sekitar bulan September  hingga Oktober.

2. Pawai Ogoh-ogoh

Pawai ogoh-ogoh via Flickr/ Sybren Stüvel
Pawai ogoh-ogoh via Flickr

Pawai ini diadakan sehari setelah Hari Raya Nyepi, biasanya jatuh pada bulan Maret. Setelah matahari terbenam, ogoh-ogoh akan diarak keliling desa dengan diiringi gambelan. Di beberapa tempat juga dilaksanakan pawai yang merupakan puncak acara dari perlombaan ogoh-ogoh antar banjar. Khusus untuk daerah Denpasar, pawai biasanya diselenggarakan di sekitar Patung Catur Muka.

3. Omed-omedan

Omed-omedan di Sesetan via Flickr/ trugiaz
Omed-omedan di Sesetan via Flickr

Omed-omedan merupakan tradisi budaya Bali yang khusus dilaksanakan di Desa Sesetan, Denpasar. Pelaksanaannya pada hari Ngembak Geni, yaitu satu hari setelah Hari Raya Nyepi.

Tradisi ini unik karena melibatkan pemuda-pemudi yang belum menikah dan berasal dari Banjar Kaja, Desa Sesetan. Mereka akan dibagi menjadi kelompok yang nantinya akan saling tarik-menarik sambil disiram dengan air.

4. Mekotek

Tradisi Mekotek Via Instagram/explorebadung
Tradisi Mekotek via Instagram/explorebadung

Tradisi Bali yang satu ini dilakukan di Desa Munggu, Mengwi dan bertujuan untuk menolak bala. Bentuk tradisinya sendiri berupa sekelompok warga desa yang membawa tongkat kayu dan dibentuk menjadi semacam kerucut. Warga tertentu akan naik ke atas kumpulan tongkat untuk memberi instruksi. Kumpulan tongkat tersebut akan diadu dengan kelompok lain.

Tradisi Mekotek ini diadakan setiap hari Raya Kuningan yang biasanya jatuh setiap 210 hari sekali. Penentuan Hari Raya Kuningan menggunakan kalender Bali, sehingga tidak bisa dikonversi secara pasti ke kalender Masehi.

5. Melasti

Tradisi Melasti via Flickr/ laurent houmeau
Tradisi Melasti via Flickr

Ritual ini merupakan upacara khusus yang bertujuan untuk menyucikan pratima-pratima atau simbol suci Tuhan yang biasanya ada di pura. Secara umum, upacara ini dilakukan oleh semua umat Hindu. Penyelenggaraannya sendiri dilakukan sekali setahun, yaitu beberapa
hari menjelang Hari Raya Nyepi, sekitar bulan Maret.

Dalam tradisi Melasti ini, umat akan berbondong-bondong menuju pantai sambil membawa simbol-simbol suci yang ada di pura. Iring-iringan tersebut diikuti dengan gambelan gong khas Bali dan juga sarana lain seperti umbul-umbul dan tedung. Salah satu lokasi paling fotogenik untuk mengambil foto tradisi ini adalah di Pantai Melasti, Ungasan.

6. Perang Pandan/Mekare kare 

Perang Pandan di tenganan via Flickr/ Ketut Sukandia
Perang Pandan di tenganan via Flickr

Tradisi unik ini dilaksanakan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem. Seperti namanya, tradisi Perang Pandan melibatkan dua orang lelaki yang berperang dengan menggunakan daun pandan berduri diiringi gambelan sakral khas desa setempat yang disebut Selonding.

Perayaan ini dilakukan untuk menghormati Dewa Indra yang dikenal sebagai dewa perang. Pelaksanaannya sendiri dilakukan setiap tahun, yaitu sekitar bulan Juni atau Juli selama dua hari berturut-turut. Tidak hanya warga lokal, tradisi ini bisa diikuti oleh orang luar.

7. Ngerebong

Tradisi Ngerebong Via Instagram/susbudhi
Tradisi Ngerebong via Instagram/susbudhi

Upacara ini merupakan tradisi sakral dan sarat dengan unsur magis yang dilaksanakan di Pura Pengrebongan, Desa Kesiman, Denpasar. Setelah beberapa rentetan upacara, warga akan melakukan semacam gerakan mengelilingi wantilan pura.

Pada saat inilah biasanya terjadi kesurupan massal. Warga yang mengalaminya akan melakukan berbagai macam hal seperti menari, berteriak, menangis, atau yang lebih ekstremnya, menusukkan keris ke dada atau yang biasa disebut Ngurek. Meskipun menggunakan benda tajam, tetapi warga yang bersangkutan tidak terluka.

Jika Teman Traveler ingin menyaksikan tradisi ini, maka pastikan kalian hadir sebelum pukul 15.00. Pelaksanaannya sendiri setiap 210 hari sekali, pada Minggu Pon, wuku Medangsia, tepatnya sekitar dua minggu setelah Hari Raya Kuningan.

Demikian ulasan singkat mengenai 7 tradisi Bali yang tidak boleh kalian lewatkan. Tertarik menyaksikannya? Next

ramadan
Baratimur Coffee

Baratimur Coffee Malang, Kafe Rumah Kolonial Serba Kayu

Itinerari 2D1N di Bangka, Wajib Masukan List Wisata Ini!