in ,

Konon Bung Karno ‘Menemukan’ Pancasila di Malang, Ini Tempatnya!

Menelusuri jejak Sang Proklamator di Bumi Arema

Kita semua tahu bahwa Bung Karno adalah pencetus utama 5 dasar negara dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, yang kelak dikenal sebagai Pancasila. Tapi apakah Teman Traveler tahu jejak perjalanan panjang Sang Proklamator dalam mencari konsep luhur tersebut? Jawaban sekaligus saksi sejarahnya tersimpan rapi pada sebuah bangunan tua di Malang. Ikuti perjalanan kami berikut ini!

Baca juga : Tradisi Ngelawang, Uniknya Kebiasaan Usir Roh Jahat oleh Anak-anak Bali

Berlokasi di Belakang Tempat Pemandian Wendit

Wisatawan di Pemandian Wendit (c) Bayu Eka Novanta/Travelingyuk

Beberapa warga menyebut bangunan ini sebagai Padepokan Sumber Agung Wendit. Sesuai namanya, tempat ini berlokasi persis di belakang Pemandian Wendit, sekitar 6 kilometer dari Bandara Abdurahman Saleh, Malang. Padepokan tersebut memang sedikit masuk ke dalam hutan. Sesekali, kita harus bertanya pada penduduk setempat untuk memastikan lokasi.

Begitu memasuki destinasi yang dituju, Teman Traveler akan disambut oleh gapura besar, perpaduan desain Eropa dan Jawa yang etnik dan khas. Sepasang guci besar mengapit di depannya, seolah-olah menambah kesan antik pada bangunan ini. Di kiri-kanannya terdapat 2 sumber mata air/sendang, masing-masing dipakai oleh warga sekitar, baik untuk mandi ataupun menjadi air minum alami.

Jadi Tempat Persinggahan Guru Spiritual Bung Karno

‘Gapura Pancasila’ (c) Diptya/Travelingyuk

Begitu memasuki gapura, kita akan melihat sebuah arca kuno kecil terpasang, yang mana di belakangnya berdiri Padepokan Sumber Agung Wendit. Yang menyedihkan, bangunan tersebut nampak sangat tidak terawat. Cat temboknya sudah banyak yang mengelupas ,serta di beberapa sudut langit-langit rumah nampak berlubang.

Selain itu, rumput liar memenuhi halaman depan rumah, menunjukkan lokasi ini sudah cukup lama terbengkalai. Padahal dulunya, padepokan ini menjadi salah satu pusat spiritual paling penting di Malang. Posisinya terbilang strategis karena berada di tengah Gunung Arjuna dan Gunung Kawi, dua gunung yang disakralkan di daerah Jawa Timur.

Wujud padepokan yang sudah tidak terawat (c) Diptya/Travelingyuk

Di sinilah tinggal seorang budayawan sekaligus guru spiritual bernama Eyang Soro. Selama hidupnya, beliau dikenal sebagai tokoh bijaksana dengan berbagai macam karunia magis yang istimewa. Biasanya setelah menyucikan diri di sumber mata air Wendit, orang-orang akan mampir ke Eyang Soro sambil memohon petunjuk dan ilham hidup.

Jadi Salah Satu Petilasan Bung Karno sebelum Rumuskan Dasar Negara

Patung Soekarno-Hatta di Monumen Pahlawan Surabaya via Shutterstock

Nah, salah satu orang yang datang dan berguru pada Eyang Soro adalah Bung Karno. Beberapa kali Sang Proklamator ini datang bahkan singgah di Padepokan Sumber Agung Wendit guna meminta petunjuk tentang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konon, berkat arahan dan nasihat Eyang Soro, Bung Karno berhasil mengkonsepkan dasar negara Indonesia, yang kelak kita kenal dengan sebutan ‘Pancasila’. Itu sebabnya, untuk mengenang peristiwa sejarah tersebut, gapura yang berdiri megah di depan padepokan dinamakan ‘Gapura Pancasila’ oleh masyarakat sekitar.

Nikmati Situs Sejarah Sambil Cicipi Pecel Autentik

Pecel Tenan (c) Diptya/Travelingyuk

Nah, sambil menikmati wisata sejarah atau menyegarkan badan di Pemandian Wendit, paling baik kalau Teman Traveler singgah sebentar untuk makan pecel yang satu ini. Lokasinya berada sebelum Gapura Pancasila. Begitu masuk gang menuju padepokan, kalian akan langsung disambut rumah klasik tempat makanan ini dijual.

Banyak keunikan yang disajikan di sini. Rasa pecelnya yang nikmat dan gurih karena bumbunya bikinan sendiri plus sayurnya diambil dari tanaman dari sekitar sendang, penjualnya pun berpakaian tradisional, lengkap dengan sarung dan kebaya khas Jawa. Jadi benar-benar berasa makan di desa yang sejuk dan damai.

Itulah tadi ulasan singkat tentang ‘hidden gem‘ di Malang. Bagi kalian para penikmat sejarah, destinasi yang satu ini cocok untuk ditelusuri dan dipelajari lebih lanjut. Siapa tahu, padepokan tersebut bisa dikembangkan menjadi wisata sejarah yang sarat akan nilai moral dan budaya yang kental. Next

ramadan
Berfoto di Bukit Surga

Bukit Surga, Alternatif Wisata Akhir Tahun Asyik di Bali

4 Tol Terpanjang di Dunia, Ada yang Panjangnya 6 Kali Jarak Sabang-Merauke