in , ,

Candi Cangkuang Garut, Liburan Sambil Belajar Budaya & Sejarah

Melihat Sejarah Lampau Garut di Candi Cangkuang

Candi Cangkuang Garut
Candi Cangkuang Garut (c) Listya Pradana/Travelingyuk

Garut sudah lama dikenal memiliki banyak wisata alam. Namun ternyata Swiss van Java ini juga punya wisata sejarah yang indah, salah satunya adalah Candi Cangkuang. Mungkin banyak Teman Traveler yang belum pernah mendengar soal candi ini. Yuk, kita simak ulasan lengkapnya.

Baca juga : Akomodasi Sekitar Wisata Surabaya, Tidak Sampai 150 Ribu

Tiket Masuk Sangat Terjangkau

Pintu masuk candi (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Kawasan wisata Candi Cangkuang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut. Teman Traveler perlu menempuh perjalanan kurang lebih tiga kilometer dari Alun-alun Leles untuk sampai sini.

Candi Cangkuang (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Tiket masuknya cukup murah, hanya perlu membayar Rp7.500 untuk pengunjung dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak. Khusus untuk wisatawan mancanegara, dikenakan biaya Rp12.000.

Candi Tanpa Identitas

Pengunjung di sekitar candi (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Berawal dari 9 Desember 1966, ditemukan sebuah makan dan Arca Siwa. Setelah diteliti, ternyata ada bekas pondasi candi yang batu penyusunnya telah berserakan. Setelah diteliti, hanya 40 persen bagian candi yang ditemukan. Namun sudah cukup menggambarkan keseluruhan bentuk candi.

Sayangnya, peninggalan bercorak Hindhu ini tak disertai penemuan prasasti. Akibatnya, hingga kini tak diketahui candi ini berasal zaman kerajaan apa. Hanya saja dari umur batuan diperkirakan asalnya dari Abad ke-8.

Bukti Penyebaran Agama Islam

Bangunan peninggalan masa lampau (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa di sebelah arca ditemukan sebuah makan kuno. Makam tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir Embah Dalem Arief Muhammad. Beliau merupakan panglima Kerajaan Mataram yang diberi tugas menyerang tentara VOC.

Singkat cerita pasukannya kalah, sehingga beliau bersembunyi di Desa Cangkuang. Pada saat itu masyarakat di sana merupakan penganut agama Hindu. Arief Muhammad pun akhirnya mulai menyebarkan agama Islam dengan cara akulturasi budaya, sehingga ajarannya lebih mudah diterima
masyarakat.

Bukti penyebaran agama ini terlihat dari penemuan naskah khutbah Jumat saat Idul Fitri. Surat ini ditulis dalam sebuah kertas dan disebut ‘Daluang’.

Menuju Lokasi Candi

Naik rakit menuju candi (c) Listya Pradana/Travelingyuk

Berakit-rakit dahulu sampai di candi kemudian. Ya, Teman Traveler harus naik rakit dan menyebrangi Situ Cangkuang sebelum sampai di destinasi utama. Biayanya hanya sekitar Rp3.000-Rp5.000 untuk perjalanan pulang pergi. Petugas rakit akan menunggu kalian hingga selesai menjelajah area sekitar candi, sebelum mengantarkan pulang.

Kampung Pulo

Komplek Kampung Pulo (c) Listya Pradana/Travelingyuk

Sebelum masuk ke kawasan candi, Teman Traveler memasuki kawasan Kampung Pulo. Daerah ini termasuk salah satu peninggalan Arief Muhammad. Di sini terdapat total enam rumah dan sebuah masjid, jumlah yang menggambarkan enam anak perempuan dan seorang anak laki-laki dari sang panglima.

Uniknya jumlah rumah dan kepala keluarga di sini tidak boleh bertambah maupun. Jika ada keluarga yang menikah, dalam kurun waktu dua minggu mereka harus pindah ke tempat lain.

Museum Kecil dan Pusat Informasi

Area di dalam museum (c) Listya Pradana/Travelingyuk

Dekat candi dan makam ada sebuah museum kecil dan pusat informasi. Di sini Teman Traveler bisa melihat foto-foto proses pemugaran candi, berkas penelitian candi dan makam, naskah khotbah peninggalan Arief Muhammad, penjelasan soal pembuatan kertas dan tinta khas daerah
Cangkuang, serta lukisan karya Sang Panglima Kerajaan Mataram.

Teman Traveler juga bisa bertanya pada petugas yang ada di sini soal sejarah kawasan sekitar. Oh ya, komplek wisata sering menggelar beberapa kegiatan rutin. Salah satunya adalah mencuci benda pusaka yang biasanya diadakan pada tanggal 14 Rabiul Awal. Umumnya digelar mulai pukul 23.00 hingga 01.00 dan terbuka untuk umum.

Oleh-oleh Khas Cangkuang

Oleh-oleh menarik (c) Listya Pradana/Travelingyuk

Berbicara soal oleh-oleh, Teman Traveler bisa membeli beragam makanan dan benda khas Cangkuang. Salah satunya adalah Burayot, camilan manis dari campuran beras yang ditumbuk dengan santan dan gula. Kalian juga bisa membeli miniatur rakit, candi, beberapa pajangan, serta perkakas dari kayu, serta batok kelapa.

Tak perlu khawatir kesulitan mencari penjualnya. Toko oleh-oleh tersebar di sepanjang jalan masuk kawasan wisata.

Ornamen Tambahan nan Kekinian

Hiasan payung dan kain warna-warni (c) Listya Pradana/Travelingyuk

Teman Traveler bakal disambut hiasan payung serta kain warna-warni di sepanjang jalan menuju lokasi candi. Hal ini merupakan bagian dari upaya pengelola untuk menambah daya tarik destinasi. Selain belajar budaya dan sejarah, kalian bisa tetap berfoto dengan latar cerah nan Instagramable.

Bagaimana Teman Traveler, menarik bukan? Tak perlu bayar mahal, kalian sudah bisa liburan asyik sambil belajar di Candi Cangkuang. Jadi, jangan lupa mampir jika sedang eksplor wisata Garut ya. Next

ramadan
Bakmie Pentil

Selain Bakmie Pentil, Ini Pilihan Kuliner Pasar Bantul

Es Daluman, Fresh Grass Jelly Drink from Bali