in ,

Melihat Kehidupan Suku Abui di Desa Adat Takpala

Wisata Budaya di Desa Adat Takpala, Pulau Alor

Desa Adat Takpala
Desa Adat Takpala (c) Zulfikar Aleksandri/Travelingyuk

Wisata bukan hanya sekedar mengagumi keindahan alam, menyelami warisan budaya suatu tempat juga tak kalah menariknya. Di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, Teman Traveler bisa melihat betapa mengagumkannya kehidupan Suku Abui di Desa Adat Takpala.

Baca juga : Desa Wisata yang Lagi Hits, Kamu Udah Pernah ke Sana?

Berada di Desa Adat Takpala, Teman Traveler akan disuguhi sederet bukti luar biasanya warisan budaya lokal. Simak pengalaman kontributor Travelingyuk, Zulfikar Aleksandri, berikut ini.

Sangat Mudah Diakses

Desa adat Takpala di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur
Suasana di sekitar desa adat (c) Zulfikar Aleksandri/Travelingyuk

Ada dua hal yang tak terpisahkan setiap kali saya melakukan perjalanan ke Nusa Tenggara Timur. Keindahan alam, serta keunikan desa adat yang dijaga turun temurun hingga sekarang.

Begitu pula saat saya berkunjung ke Alor, pulau di sisi timur Kepulauan Flores dan berbatasan langsung dengan wilayah perairan Timor Leste.

Alor sudah lama dikenal sebagai salah satu destinasi selam terbaik di Indonesia. Mungkin terbaik kedua setelah Raja Ampat. Tapi sebelum melakukan aktivitas bawah laut, yang memang jadi tujuan utama saya ke sini, terlebih dulu saya singgah di Desa Adat Takpala.

Desa adat Takpala dihuni oleh Suku Abui yang merupakan penduduk asli Pulau Alor
Desa Adat Takpala dihuni Suku Abui, penduduk asli Pulau Alor (c) Zulfikar Aleksandri/Travelingyuk

Lokasinya yang berada tak jauh dari pantai dan jalan raya membuat Desa Adat Takpala sangat mudah diakses. Jaraknya hanya 15 menit perjalanan mobil dari Bandara Mali, atau 25 menit dari ibukota Alor, Kalabahi.

Ada 21 anak tangga yang wajib ditapaki untuk menuju Desa Adat Takpala. Sejak tahun 1983, desa di atas bukit ini telah dibuka untuk umum dan ditetapkan sebagai tujuan wisata oleh Dinas Pariwisata Alor.

Sebagai kawasan budaya tradisional, Takpala memiliki belasan rumah adat berbentuk limas dan beratap ilalang. Warga lokal biasa menyebutnya dengan istilah lopo.

Suku Abui, Penghasil Tenun Jempolan

Tenun lokal dipanjang di depan rumah tradisional (c) Zulfikar Aleksandri/Travelingyuk

Dalam bahasa Suku Abui, Takpala berarti kayu pembatas. Berasal dari dua kata, ‘tak’ yang berarti batas dan ‘pala’ yang bermakna kayu.

Suku Abui merupakan suku terbesar di Alor. Basa juga disebut Tak Abui, artinya Gunung Besar. Takpala, yang kini jadi tempat tinggal mereka, dulunya berada di pedalaman Gunung Alor. Namun kemudian dipindahkan ke bagian bawah dekat pantai, agar memudahkan pembayaran pajak pada Raja Alor.

Suku Abui dikenal sangat ramah dan bersahaja pada pendatang. Keseharian mereka berladang singkong, jagung, dan berburu, sedangkan yang perempuan menenun.

Tenun Takpala bermotif bunga, kepiting, kura-kura, dan ikan. Warna tenun ikat ini beragam, ada yang hitam, merah, kuning, dan biru. Harga jualnya mulai dari Rp150.000 hingga jutaan rupiah.

Beragam Benda Kerajinan

Berbagai kerajinan yang dijual penduduk lokal desa adat Takpala
Berbagai kerajinan yang dijual penduduk lokal Desa Adat Takpala (c) Zulfikar Aleksandri/Travelingyuk

Selain kain tenun, warga setempat juga menjual beragam benda kerajinan. Salah satunya tas fulak, terbuat dari anyaman bambu dan biasa digunakan membawa sirih pinang atau menyimpan uang. Tas ini juga dikenakan saat menari lego-lego, tarian tradisional Suku Abui.

Pernak-pernik unik ini adalah hasil buatan penduduk Takpala
Pernak-pernik unik (c) Zulfikar Aleksandri/Travelingyuk

Wisatawan yang berkunjung ke Takpala juga bisa menyewa baju adat Suku Abui dan berfoto. Sebagai pelengkap disediakan busur panah, senjata tradisional setempat, serta Moko, alat musik khas daerah sini, Moko. Tak heran bila Alor juga kerap mendapat julukan ‘Pulau Seribu Moko’.

Itulah sedikit penjelasan mengenai serunya berwisata di Desa Adat Takpala, Pulau Alor, Nusa Tenggara Barat. Teman Traveler bisa melihat sendiri betapa luar biasanya warisan budaya dan tradisi Suku Abui. Jadi, kapan kalian berencana berkunjung ke sini? Next

ramadan

Penulis adalah kontributor lepas di travelingyuk.com

Ragusa Es Italia

Mencicipi Ragusa Es Italia Jakarta, Seakan Masuk Lorong Waktu 1930-an

Kinokimi Coffe Bandung

Kinokimi Coffee Bandung, Instagenic Cocok untuk Mahasiswa