in , ,

Jalan-jalan di Kampung Ketandan, Nikmati Nuansa Tiongkok di Jogja

Meresapi Warisan Budaya dan Kuliner di Kampung Ketandan

Kampung Ketandan Jogjakarta
Kampung Ketandan Jogjakarta (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Teman Traveler tentu sudah tak asing dengan kata Pecinan. Istilah tersebut biasa digunakan untuk menyebut permukiman orang-orang Tionghoa. Kawasan semacam ini biasanya juga berfungsi sebagai pusat bisnis dan kerap ramai pengunjung. Termasuk Kampung Ketandan yang ada di Jogja.

Baca juga : 5 Toko Kue Lawas Bergaya Modern di Indonesia, Serasa Bernostalgia

Gerbang Kampung Ketandan (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Pecinan di setiap kota kerap memiliki sejarah panjang. Hal tersebut tak terlepas dari fakta bahwa sejak dulu orang-orang dari Negeri Tirai Bambu memang gemar berdagang dan tak gentar merantau hingga menyeberangi lautan.

Salah satu rumah berhias lampion di Kampung Ketandan (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Indonesia memiliki banyak kawasan Pecinan tersohor, mulai dari Medan, Jakarta, Semarang, Jogjakarta, hingga Surabaya. Khusus Jogja, meski kawasan ini kental dengan budaya Jawa, ada kawasan Kampung Ketandan yang terkenal. Lokasinya berada di sekitar Malioboro.

Daerah sekitar Kampung Ketandan dihiasi banyak bangunan bernuansa Tiongkok. Menjelang Imlek atau perayaan hari besar Tionghoa lain, suasana sekitarnya akan lebih meriah. Yuk, kita simak ulasan serunya jalan-jalan di Kampung Ketandan.

Sejarah Kampung Ketandan

Jalanan di Ketandan (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Malioboro dikenal sebagai salah satu pusat wisata belanja di Jogja. Namun, banyak orang lupa bahwa kawasan ini juga merupakan tempat bermukimnya warga multietnis dan difungsikan sebagai pusat perdagangan.

Dulunya, penghuni kawasan Malioboro didominasi etnis Tionghoa. Hingga kini jejaknya masih terlihat di beberapa tempat. Salah satunya bangunan Toko Roti Djoen yang memiliki sentuhan khas Tiongkok. Begitu pula dengan beberapa gedung lawas di sekitarnya.

Sepeda lawas di Ketandan (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Perselisihan lantas sempat terjadi di masa mempertahankan kemerdekaan. Para pemimpin Jogjakarta kala itu mengusir warga etnis Tionghoa dari Kota Gudeg. Namun, Sultan lantas memberikan pengampunan dan sepetak tanah di Malioboro untuk mereka kelola. Inilah yang menjadi asal mula munculnya Kampung Ketandan.

Seiring berjalannya waktu, Ketandan jadi kian berkembang. Fungsinya sebagai kawasan perdagangan kian menguat. Banyak warga sekitar mencari penghidupan lewat berjualan emas, meski ada pula yang berdagang kuliner dan barang-barang kelontong.

Berwisata di Sekitar Ketandan

Patung Anjing di salah satu pojok kampung (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Meski tidak seterkenal Glodok di Jakarta atau Kya-Kya di Surabaya, Ketandan belakangan mulai berkembang sebagai tempat wisata. Beberapa warganya masih ada yang tetap berjualan emas. Persis seperti situasi di masa lalu.

Yamie Ketandan (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Tak sedikit pula yang bergerak di bidang usaha kuliner. Oleh karena itu, sangat tepat jika Teman Traveler menjadikan Ketandan sebagai salah satu tujuan wisata kuliner di Jogja. Kalian bisa mencicipi lezatnya Yamie Ketandan, Bakmi Ketandan, atau Es Sekoteng di wisata Jogja satu ini.

Semakin Ramai Saat Imlek

Ramainya Kampung Ketandan (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Seperti kebanyakan kawasan Pecinan, Kampung Ketandan juga semakin meriah menjelang dan saat perayaan Imlek. Apalagi ketika digelar festival Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, event tahunan yang kerap menyedot animo masyarakat Kota Gudeg.

Selama gelaran berlangsung, Teman Traveler bisa menyaksikan banyak atraksi dan mencicipi beragam sajian kuliner. Selain itu kalian juga akan disuguhi pertunjukan kesenian Wayang Potehi, yang belakangan ini mulai langka. Pantang dilewatkan, apalagi Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta sudah masuk calendar event resmi dari Kementrian Pariwisata.

Itulah sekilas ulasan mengenai asyiknya jalan-jalan di Kampung Ketandan. Meski sedang tak ada event atau festival, Teman Traveler masih bisa melihat-lihat jejak budaya Tiongkok di sekitarnya. Bagaimana, tertarik ingin berkunjung ke sini, kan? Next

ramadan

Goa Lawah Temple, a Bat Cave and a Secret Portal to Other Dimension

Menikmati sunrise di Pos 1 Sindoro

Eloknya Pos 1 Sindoro, Nikmati Sunrise Tanpa Harus ke Puncak Gunung