in , ,

Pendakian Gunung Leuser, Menjajal Atap Belantara Tanah Rencong

Kepuasan Setelah Mendaki Gunung Leuser, Perjalanan Panjang Terbayar Sudah

Pendakian Gunung Leuser/Dok. Mapala Siginjai Unja
Pendakian Gunung Leuser/Dok. Mapala Siginjai Unja

Taman Nasional Gunung Leuser kerap menjadi perhatian. Selain terkenal sebagai salah satu kawasan perlindungan flora dan fauna terbesar di Asia Tenggara, wisata Aceh ini juga terkenal dengan Gunung Leuser. Pasti tidak asing lagi di telinga, khususnya bagi pegiat alam bebas. Berikut adalah cerita pengalaman saya dalam pendakian Gunung Leuser.

Baca juga : Voyaging Deep into Bali’s Underwater with Odyssey Submarine

Pintu Gerbang Utama

Pintu gerbang utama untuk pendakian Gunung Leuser adalah Dusun Kedah, Desa Panosan Sepakat, Blang Jerengo, Gayo Lues, Aceh. Untuk sampai di dusun terakhir dapat ditempuh menggunakan transportasi darat jurusan Kutapanjang/Blangjerengo yang berjarak sekitar 9 Km.

Dilanjutkan naik Becak Mesin hingga ke Dusun Kedah sejauh 5 km. Di dusun terakhir inilah para pendaki mengurus perizinan sebalum melanjutkan perjalanan menelusuri belantara pegunungan Leuser.

Perjalanan Menuju Pintu Rimba

Perkebunan Masyarakat Menuju Pintu Rimba /Dok. Mapala Siginjai Unja

Sebelum memasuki Pintu Rimba, pendaki harus terlebih dahulu berjalan kaki sekitar 4 sampai 5 jam dari Dusun Kedah. Jangan khawatir, perjalanan pertama tidak akan membosankan jika Teman Traveler bisa menikmati semua panorama yang ada.

Masyarakat Dusun Kedah mayoritas berprofesi sebagai petani. Sehingga tidak mengherankan jika sejauh mata memandang akan terpampang hamparan tembakau, padi, hingga tanaman palawija.

Semua itu tersusun rapi dipagari perbukitan hijau Pegunungan Leuser. Panorama itulah yang akan menemani setiap langkah pendaki sebagai sajian pelepas penat. Lebih menariknya lagi, kamu bisa beramah tamah dengan para petani tembakau sekaligus melihat dan mencoba proses pengolahannya sebelum di bawa ke pengepul.

Jalur Pendakian Menyusuri Belantara Pegunungan Leuser

Siapkan mental, fisik, dan pengetahuan pendakian. Itulah saran paling penting untuk para pendaki yang hendaki mencicipi dahsyatnya jalur Pegunungan Leuser. Area ini adalah salah satu jalur dengan trek pendakian terpanjang di Indonesia. Terhitung membutuhkan waktu sekitar 14 hari dengan estimasi waktu pergi selama 9 hari dan pulang 5 hari.

Itu pun menyesuaikan dengan fisik yang dimiliki si pendaki. Sepanjang jalur menuju puncak Leuser, telah disediakan pos-pos untuk mendirikan camp sekaligus menikmati panorama malam hari. Pos inilah yang kerap dijadikan acuan dalam menyusun planning sebelum memulai pendakian.

Pintu Rimba-Simpang Air

Pendakian Gunung Leuser
View Dusun Kedah dari Pintu Rimba/Dok. Mapala Siginjai Unja

Pintu Rimba berada di ketinggian 1630 Mdpl, sementara camp Simpang Air berada 2135 Mdpl. Perjalanan menuju spot ini membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dengan kondisi jalan yang terjal serta vegetasi hutan yang rapat.

Jalur ini cukup menarik perhatian karena rata-rata ranting pohon diselimuti oleh lumut kering khas hutan tropis. Pemandangan unik inilah yang menjadi daya tarik di awal pendakian dan kerap diabadikan oleh kamera.

Camp Simpang Air cukup luas namun tertutup oleh lebatnya vegetasi. Selain itu, terdapat sumber air yang bisa digunakan untuk kebutuhan minum dan masak.

Camp Air-Puncak Angkasan

Pendakian Gunung Leuser
Pohon Bekas Kebakaran di Camp Jamur 1 yang Jadi Spot Foto Para Pendaki/ Dok. Mapala Siginjai Unja

Sebelum mencapai Puncak Angkasan sebenarnya masih ada camp alternatif yang bisa dijadikan tempat istirahat, jika tidak sanggup mencapai Puncak Angkasan. Alternatif pertama camp Jamur 1, berjarak 2 jam dari Simpang Air. Lokasi ini mudah dikenali, dengan pepohonan kering bekas kebakaran.

Alternatif kedua, camp Pemandian Burung yang juga menyediakan sumber air. Hanya saja tempat ini tidak terlalu lapang untuk mendirikan banyak tenda.

View dari Puncak Angkasan/Dok. Mapala Siginjai Unja

Angkasan di ketinggian 2800 Mdpl adalah puncak pertama yang akan dijumpai di Pegunungan Leuser. Puncak Angkasan memberikan sentuhan panorama berbeda dibanding Simpang Air. Pemandangan Gayo Lues dari atas akan terlihat jelas pada malam hari.

Kerlap kerlip lampu pemukiman warga menjadi suasana tersendiri di tengah cuaca dingin yang begitu menikam. Jika bangun lebih pagi, maka kamu bisa melihat sunrise muncul dari timur.

Meski memiliki sajian pemandangan yang khas, tapi bukan perkara mudah untuk mencapai Puncak Angkasan. Harus melewati tanjakan terjal tanpa bonus landai. Kerap kali membuat para pendaki jatuh mental untuk mendaki Leuser dan kemudian memutuskan kembali.

Puncak Angkasan-Lintasan Badak

Camp Lintasan Badak/Dok. Mapala Siginjai Unja

Sebelum beranjak menuju camp selanjutnya, biasanya pendaki akan menanam logistik di Puncak Angkasan. Sistem penanaman logistik penting sebagai bagian dari manajemen pendakian. Membawa semua konsumsi pendakian selama berhari hari tentu tidak efektif dari segi beban. Namun jika hendak menanam logistik pastikan semua akan berjalan dengan baik.

Perjalanan menuju Lintasan Badak berarti perjalanan turun ke lembah. Lintasan Badak berada di ketinggian 2310 Mdpl, cukup tertutup dan diapit oleh perbukitan. Ketika mendirikan tenda di sini, disarankan untuk tidak menyimpan makanan di sembarang tempat karena sangat banyak tikus berkeliaran.

Sebelum sampai di Lintasan Badak, pendaki akan melewati camp Kulit Manis 1, Kulit Manis 2, dan Kulit Manis 3. Ketiganya juga menyediakan area mendirikan tenda dan sumber air. Total waktu tempuh dari Puncak Angkasan ke Lintasan Badak berkisar 5 jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan akan ditemukan banyak tumbuhan Kantong Semar dengan aneka warna. Belum lagi pemandangan berupa hamparan luas perbukitan yang memanjakan mata. Namun terkadang panorama terbuka itu membuat ciut nyali, karena perbukitan itulah yang akan dilewati esok harinya untuk sampai ke Puncak Leuser.

Lintasan Badak-Blang Beke

Blang Beke/Dok. Mapala Siginjai Unja

Perjalanan dari Lintasan Badak ke Blang Beke berkisar 5 jam dengan kondisi medan yang variatif. Blang Beke adalah area padang rumput yang paling indah di sepanjang perjalanan. Hamparan padang ilalang dengan warna kecoklatan serta beberapa bongkahan batu besar, cukup mengobati lelah perjalanan seharian. Bahkan bila malam tiba, kamu bisa membentang matras sambil menikmati bulan dan bintang di tengah keheningan hutan Leuser.

Blang Beke-Kolam Badak

Sungai Alas/Dok. Mapala Siginjai Unja

Perjalanan dari Blang Beke ke Kolam Badak akan menyeberangi Sungai Alas, butuh waktu sekitar 3 jam. Nama Kolam Badak sendiri didasari pada kebiasaan Badak Sumatera yang sering berkunjung ke kolam sumber air ini untuk melepas dahaga.

Sungai Alas membelah jalur pendakian menjadi dua bagian. Banyak mitos yang mewarnai sungai ini, termasuk perubahan cuaca yang kerap dirasakan pendaki setelah menyeberang. Jalur menuju Kolam Badak pun tergolong menarik. Terdapat perbukitan kecil layaknya bukit Teletubis yang bisa menjadi spot foto wajib untuk diabadikan.

Kolam Badak-Camp Puteri

View Sunset dari Punggungan Bukit Menuju Camp Putri/ Dok. Mapala Siginjai Unja

Camp Puteri berada di ketinggian 2934 Mdpl. Butuh waktu sekitar  5 jam perjalanan menuju Puteri dari Kolam Badak. Jalur ini akan mengantarkan kamu pada medan yang tidak terlalu terjal, berupa punggungan bukit. Tapi perlu hati-hati karena terdapat jurang di sebelah kanan jalur. Selain itu di tempat ini juga kerap terjadi kabut yang bisa menghambat perjalanan.

Camp Puteri-Bivak Batu

Pendakian Gunung Leuser
Jalur Pendakian Menuju Bivak Batu/Dok. Mapala Siginjai Unja

Perjalanan pendakian Gunung Leuser menuju Bivak Batu di ketinggian 2947 Mdpl harus melewati medan sulit, ditempuh dalam waktu kira-kira 5 jam. Pendaki akan melewati Bivak Kaleng yang juga menyediakan area camp sebagai tempat peristirahatan, jika tidak sanggup untuk mencapai Bivak Batu.

Perlu memperhatikan medan ketika mendirikan tenda di Bivak Batu terutama arah angin. Area terbuka ini didominasi oleh batuan. Usahakan mendirikan tenda di samping bongkahan batu besar yang bisa menghalangi badai angin yang sewaktu waktu bisa saja menghantam tenda.

Bivak Batu-Simpang Mahmud

Sebelum mencapai Simpang Mahmud, terlebih dahulu akan menemui camp Krueng Kelut yang artinya adalah naik turun. Sesuai dengan namanya, untuk mencapainya penuh perjuangan.

Harus turun ke sungai Krueng Kelut dengan medan batu yang licin lalu menyeberangi sungai kecil. Jika tidak hati hati bisa saja tergelincir ke sungai. Selanjutnya dari Krueng Kelut membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan untuk sampai di Simpang Mahmud.

Simpang Mahmud sangat dekat dengan Puncak Loser. Jika mendirikan tenda di tempat ini puncak Loser terlihat begitu megah dibalut
kontur hijau. Simpang Mahmud berada di ketinggian 3202 Mdpl. Selain puncak Loser, dari camp ini juga bisa terlihat Puncak Tanpa Nama yang berseberangan dengan puncak Loser. Semua terlihat jelas seolah begitu dekat.

Simpang Tanpa Nama-Leuser

Pendakian Gunung Leuser
View Puncak Leuser dari Puncak Loser/Dok. Mapala Siginjai Unja

Meski begitu dekat terlihat, tapi sebenarnya perlu waktu sekitar 3 jam perjalanan untuk bisa menggapai puncak Loser. Sebelum sampai di puncak Loser ada hamparan luas yang oleh para pendaki disebut sebagai Lapangan Bola. kondisi medannya yang lapang dan ditumbuhi rumput pendek nan hijau memberikan kesan lokasi ini lebih mirip seperti lapangan bola.

Puncak Loser memiliki ketinggian 3404 Mdpl yang ditandai dengan titik treangulasi berupa tiang dengan tinggi berkisar 2 meter. Dari puncak loser kita berdiri seolah begitu dekat dengan puncak Leuser. Bila sore hari dan cuaca sedang cerah maka akan terlihat sunset tenggelam di sebelah kiri puncak Leuser. Dari puncak Loser ke puncak Leuser membutuhkan waktu satu jam perjalanan.

Sebelum mencapai puncak Leuser terdapat danau kecil yang dikenal dengan nama Danau Leuser. Puncak Leuser sendiri memiliki ketinggian 3114 Mdpl. Dan puncak inilah yang menjadi titik pencapaian terakhir para pendaki yang harus memakan waktu berhari hari untuk sekedar menginjakkan kaki di permukaannya.

Pesona Bungalau, Penyempurna Momen Pendakian

Pendakian Gunung Leuser
Acara Makan Bersama dengan Masyarakat Kedah di Bungalau/Dok. Mapala Siginjai Unja

Perjalanan menggapai puncak Leuser mungkin sangat melelahkan, tapi meski begitu akan selalu menjadi momen yang tak terlupakan. Tidak banyak orang yang tertarik dan bisa melakukannya, bergelut dengan aroma lumut basah dibalut cuaca dingin hingga belasan hari.

Berteman kawanan tikus hutan dan kabut yang bahkan bisa saja menghilangkan nyawa. Tapi disitulah sebuah inti dari sebuah perjalanan bisa dimaknai. Dan pegunungan Leuser berhasil mewadahinya.

Tidak hanya sampai disitu, Kedah sebagai titik awal dan titik akhir pendakian Gunung Leuser selalu punya cara untuk memberikan momen
tak terlupakan bagi para pengunjungnya. Saat berhasil kembali dengan selamat, maka akan ada acara syukuran di Bungalau. Bungalau seperti tempatnya para pendaki menyempurnakan momen pendakiannya.

Bungalau adalah taman sekaligus villa bagi para pecinta nuansa alam. Disana ada beberapa penginapan yang didesain dengan nuansa alam lengkap dengan pemandangan taman bunganya. Disanalah diadakan pesta
sederhana seperti memasak lemang atau membakar ayam untuk disantap bersama masyarakat.

Berada di Bungalau seolah berada di era sederhana Indonesia dengan keindahan yang murni terbentuk dari alam bukan bangunan raksasa. Musik yang dimainkan disana adalah celotehan para burung dan gesekan ranting pohon dari desiran angin sepoi-sepoi.

Pendakian Gunung Leuser bukan hanya mengejar puncak tapi juga mengenal kesederhanaan masyarakat Kedah Aceh. Dilihat dari bagaimana mereka memperlakukan tamu dan menyediakan fasilitas. Hal itu dapat terlihat di Bungalau.

Bagi kamu yang suka mendaki gunung di Indonesia, bisa menjajal Leuser yang menantang. Kapan Teman Traveler berwisata ke sini? Next

ramadan
Pemandangan di rooftop

Three Eight Front One, Hotel Butik Serba Lengkap di Batu

Menikmati Pemandangan di Danau Matano

Danau Matano, Pesona Eksotis Danau Terdalam di Indonesia