in , ,

Tari Sere Api, Penuh Makna di Tengah Bara

Mencermati Makna Khusus di Balik Ritual Tari Sere

Tari Sere Api
Tari Sere Api (c) Muhammad Jalil/Travelingyuk

Istilah Tari Sere Api atau Massere Api berasal dari Bahasa Bugis yang artinya bergerak/menari dalam kobaran api. Tradisi ini diketahui sudah ada sejak 1920 di Desa Gattareng, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Tak diketahui pasti siapa pencetusnya karena banyak warga sekitar meyakini tradisi ini lahir dari spontanitas nenek moyang.

Baca juga : Pasar Buku Kenari, Sentra Belanja Buku Viral di Jakarta

Sere Api kini sudah menjadi ritual tahunan warga Desa Gattareng. Selain sebagai upaya komunikasi dengan Sang Hyang Sri, Dewi Padi, tarian ini juga merupakan perwujudan syukur atas hasil panen. Unsur sosial juga sangat erat kaitannya dengan tradisi unik ini, sebab dapat mempererat hubungan silaturahmi antar penduduk setempat.

Menyalakan Api (Mappalua’ Api)

Api mulai dinyalakan (c) Muhammad Jalil/Travelingyuk

Sebelum tarian dimulai, kayu yang akan dibakar dipersiapkan terlebih dahulu. Satu orang bakal bertugas menyusun kayu-kayu tersebut, menyiram dengan minyak tanah, dan membakarnya. Sementara itu, para penari Sere Api akan membawa alu (pemukul lesung) dan bersiap memulai pertunjukan.

Unsur api dipilih bukan tanpa alasan. Menurut penuturan salah seorang ahli Sere Api, kobaran api melambangkan semangat hidup masyarakat, yang diharapkan terus menyala dan tak pernah padam.

Menumbuk (Mallu’da)

Para penari tampak antusias (c) Muhamad Jalil/Travelingyuk

Tarian Sere Api biasanya dilaksanakan oleh 12 orang, enam perempuan sebagai Ana’ Padenda’ dan enam laki-laki sebagai Pa’Sere Api. Begitu api dinyalakan para penari akan mulai melakukan Mallu’da atau gerakan menumbuk lesung dengan riang dan semangat. Masing-masing kelompok penari dibagi menjadi dua grup dan saling berhadapan.

Seiring dengan irama yang ditimbulkan lesung, masyarakat akan bersorak, bertepuk tangan, dan memberi semangat. Sejurus kemudian, para penari laki-laki akan mulai meninggalkan lesung dan melakukan improvisasi. Mereka bakal bergerak sesuai irama lesung dari Ana’ Padenda’.

Berikutnya penari laki-laki akan memasuki tempat pertunjukan sambil memegang alu di tangan sebelah kanan dan mengayunkan tangan kiri, dilanjutkan dengan memindah alu ke tangan sebelah kiri dan menganyunkan tangan sebelah kanan. Hal ini dilakukan berulang-ulang, bergantian antara postur tegak dan membungkuk sambil melihat kobaran api.

Gerakan Serupa Silat (Mammenca’)

Menginjak kobaran api (c) Muhammad Jalil/Travelingyuk

Pada bagian ini Pa’Sere akan melakukan gerak improvisasi tangan dan kaki, menyerupai jurus silat atau bela diri. Gerakan ini memiliki makna bahwa untuk bisa bertahan di dunia ini, semua orang harus tetap bersemangat dan bekerja dengan giat.

Sesekali penari akan bergantian masuk ke kobaran api besar. Mereka juga akan memegang alu dan melakukan mannampu’ (gerakan menumbuk lesung) dengan nada berbeda.

Tak jarang pula para penari laki-laki melakukan atraksi dengan memasukkan kobaran api ke dalam mulut atau menginjakkan kaki dalam kobaran api. Gerakan ini dilakukan sebagai perlambang melawan semua hal-hal buruk yang mungkin mengganggu panen dan menjadi malapetaka bagi masyarakat sekitar.

Menginjak Api (Ma’dese Api)

Atraksi di tengah kobaran api (c) Muhammad Jalil/Travelingyuk

Para penari Sere Api akan masuk kobaran api besar dan melakukan beragam atraksi di atas susunan kayu. Ada yang menginjak-injakkan kaki dengan gerakan mirip silat ke bara api, sambil memegang alu. Hal ini dilakukan berulang-ulang dan jika kobaran api padam, para penari bakal kembali ke lesung untuk melakukan mannampu’ dengan irama khas. Sementara itu akan ada seseorang yang dengan sigap berusaha agar api menyala kembali.

Gerakan Tari Sere Api juga punya makna khusus. Menginjak api bagaikan menghapus semua sifat buruk dan emosi membara. Harapannya, kehidupan masyarakat jadi semakin membaik.

Mappakaraja (Memberi Penghormatan)

Penari Sere Api melakukan atraksi (c) Muhammad Jalil/Travelingyuk

Mappakaraja adalah memberi penghormatan pada masyarakat yang sudah menonton pertunjukan Tari Sere Api, sekaligus menjadi pertanda berakhirnya tarian tradisional ini. Para penari akan mengelilingi lesung sebanyak tiga kali.

Penari memberi penghormatan (c) Muhammad Jalil/Travelingyuk

Itulah sedikit ulasan mengenai uniknya Tari Sere Api, sebuah warisan budaya Indonesia yang patut untuk terus dijaga dan dilestarikan. Bagaimana menurut kalian Teman Traveler, tertarik datang ke Sulawesi Selatan dan melihat langsung tradisi ini? Next

ramadan
Taman Kota Tasikmalaya

Taman Kota Tasikmalaya, Nikmati Sore Asyik di Kawasan Santri

10 Spot Foto Hits di Wisata Alam Malang Raya Rekomendasi Travelingyuk