in , ,

Mistisnya TPU Petamburan, Dari Mausoleum Megah hingga Makam Yahudi

Sesekali Jalan-jalan di Makam Keren Seperti TPU Petamburan

TPU Petamburan (c)nydiasusanto travelingyuk
TPU Petamburan (c)nydiasusanto travelingyuk

Sesungguhnya, TPU Petamburan di Jalan KS Tubun, Jakarta, bukan sekadar taman makam biasa. Di sini tersimpan sepenggal sejarah ibu kota dengan keberadaan mausoleum megah, persemayaman terakhir para tokoh terkenal dan berbagai warga asing yang pernah tinggal di Jakarta. Seindah apakah destinasi wisata di Jakarta ini? Simak ulasan berikut.

Baca juga : Wisata Kawah Kamojang Garut, Sauna Alami dari Swiss van Java yang Wajib Dicoba!

Mausoleum OG Khouw

TPU Petamburan
Di dalam mausoleum (c)nydiasusanto/travelingyuk

OG Khouw, yang bernama asli Khouw Oen Giok, adalah tuan tanah dari Tambun, pengusaha perkebunan tebu, pemilik Than Kie Bank dan filantropis. Ia pernah menyumbang dana untuk rumah sakit Jang Seng Ie (kini RS Husada) dan 40 ribu gulden untuk palang merah Belanda, sehingga mendapatkan kewarganegaraan Belanda dari Ratu Wilhelmina.

Hal itu juga mempengaruhi urutan penulisan namanya yang disesuaikan dengan cara barat, OG Khouw, di mana nama keluarga diletakkan di belakang. Ia juga merupakan sepupu dari Khouw Kim An, seorang mayor keturunan Tiongkok yang diangkat pemerintah kolonial Belanda dan bekas pemilik rumah Candra Naya di Jalan Gajah Mada.

TPU Petamburan
Mausoleum OG Khouw (c)nydiasusanto/travelingyuk

Sepeninggal OG Khouw tahun 1927, istrinya Lim Sha Nio mendirikan mausoleum setinggi 9 meter dengan bahan marmer hitam dan patung-patung yang diimpor langsung dari Italia untuk menyimpan abu jenazah suaminya. Tak hanya sebatas melindungi makam yang megah, mausoleum ini memiliki bunker di bawahnya untuk para pelayat dan ruang tengah yang sudah ditutup secara permanen oleh pihak keluarga.

Dirancang oleh arsitek G. Racina dari firma Ai Marmi Italiani, pembangunannya memakan biaya yang fantastis, 500 ribu gulden atau 3 milyar rupiah pada zaman itu. Mausoleum yang rampung pada tahun 1932 ini adalah yang terbesar se-Asia Tenggara.

Sayangnya, pasangan suami istri yang kaya raya ini tidak punya keturunan. Maka, setelah Lim Sha Nio meninggal tahun 1957 dan dikubur di sisi sang suami. Mausoleum yang kemegahannya mengalahkan makam raja minyak Rockefeller dari Amerika Serikat ini sempat menjadi korban vandalisme, pencurian, dan kondisinya mulai menurun termakan usia.

TPU Petamburan
Hidungnya tercuil akibat vandalisme (c)nydiasusanto/travelingyuk

Salah satu bukti vandalisme adalah patung malaikat yang berada diantara kedua nisan yang hidungnya tercuil dan marmer dalam bunker yang retak-retak. Tidak hanya itu. Pernah juga terjadi ada sepasang remaja SMU yang diduga melakukan perbuatan cabul di dalam bunker sebelum dipasang pintu besi. 

Untung saja masih ada pihak dari TPU dan komunitas Love Our Heritage yang peduli untuk mengurusnya. Tapi, tetap saja butuh peran pemerintah untuk pembiayaan renovasi yang memakan biaya besar. Salah satu faktor mengapa mausoleum ini belum ditetapkan sebagai cagar budaya adalah karena OG Khouw tercatat sebagai warga negara Belanda.

TPU Petamburan
Menuju bunker (c)nydiasusanto/travelingyuk
dscf0082_5vY.JPG
Ukiran karangan bunga mawar dan pita di belakang pintu besi (c)nydiasusanto/travelingyuk
TPU Petamburan
Di lorong bunker (c)nydiasusanto/travelingyuk
TPU Petamburan
Meja persembahan dengan patung wajah OG Khouw dan Lim Sha Nio (c)nydiasusanto/travelingyuk

Keluarga Khouw yang Dimakamkan di TPU Petamburan

dscf9629_ty_oLJ.jpg
Makam Khouw Kim An dan istrinya (c)nydiasusanto/travelingyuk

Dahulu, tanah TPU Petamburan adalah milik keluarga Khouw yang disewa selama 80 tahun. Namun, kenyataannya hanya sedikit anggota keluarga Khouw yang dimakamkan di sana, yakni Khouw Kim An, yang meninggal setelah ditangkap dan dipenjara tentara Jepang, istrinya Phoa Tji Nio, WS Khouw dan Khouw Kok Lie. Wujud makam mereka masih berupa mausoleum, namun kemegahannya kalah jauh dengan milik OG Khouw.

Tokoh Lain dan Inspirasi Marmer Hitam

TPU Petamburan
Makam dengan marmer hitam (c)nydiasusanto/travelingyuk

Marmer hitam yang digunakan di mausoleum menjadi acuan tren untuk desain batu-batu nisan lainnya. Dalam penerapannya, ada yang menggunakan marmer hitam di seluruh permukaan, misalnya makam notaris besar Djojo Mulyadi.

Ada juga yang mengaplikasikannya secara sebagian, khususnya di bagian penamaan. Contohnya, makam istri pengusaha toko buku Gunung Agung, Ibu Aju Agung.

dscf9653_ty_gBP.jpg
Makam Ibu Aju Agung (c)nydiasusanto/travelingyuk
dscf9640_ty_P0L.jpg
Makam lain dengan marmer hitam (c)nydiasusanto/travelingyuk

Variasi Makam Kaya Budaya

dscf9639_ty_rbg.jpg
Tampak muka rumah abu Jepang (c)nydiasusanto/travelingyuk

Mengelilingi pekarangan TPU Petamburan sebetulnya menarik berkat variasi bentuk makam yang tergrafir. Ada nama-nama Belanda, Jepang, Tiongkok dan Yahudi selain Indonesia. Menjadikan taman makam ini saksi bisu keberagaman budaya dan bangsa dari mereka yang mendahului kita.

dscf9635_ty_Cpn.jpg
Tampak belakang rumah abu Jepang (c)nydiasusanto/travelingyuk

Makam para petinggi Jepang pada masa pendudukan Negeri Matahari Terbit di Indonesia berupa rumah abu jenazah, di mana tidak sembarangan orang bisa berkunjung. Bahkan tidak diizinkan untuk memfoto interior rumah abu. Hingga sekarang, para staf kedutaan Jepang masih melakukan ritual setahun sekali untuk mendoakan arwah-arwah mereka.

dscf9684_ty_UKu.jpg
Makam bergaya gapura Cina (c)nydiasusanto/travelingyuk

Selain itu, cukup banyak juga ditemui bentuk makam berwujud gapura Cina yang berukiran indah. Ditambah pula makam bergaya Eropa yang nampak dari pahatan patungnya.

dscf9667_ty_6vw.jpg
Makam Liauw Tian Hoe, pembalap sepeda (c)nydiasusanto/travelingyuk
dscf0074_ty_sPa.jpg
Makam bergaya Eropa (c)nydiasusanto/travelingyuk

Dari semuanya, makam Yahudi adalah yang paling unik karena bentuknya segitiga dan ditulis dengan aksara Ibrani. Dahulu, warga Yahudi datang ke Indonesia sebagai pedagang dan sering dikira orang Arab oleh penduduk sekitar karena wajahnya.

dscf9647_ty_wJt.jpg
Makam Yahudi yang tersisa (c)nydiasusanto/travelingyuk

Sayang sekali, mayoritas kondisinya rusak karena tidak terurus dan vandalisme. Rata-rata keluarga di negeri asalnya tidak lagi mengunjungi makam-makam ini dan tidak membayar iuran perawatan.

Sehingga terpaksa posisinya digantikan makam lain. Sisa makam yang tinggal 7, yang awalnya 25 saat ditemukan, masih ada yang dibetulkan karena faktor pelestarian budaya.

Sudah saatnya pemerintah setempat memberi perhatian lebih terhadap TPU Petamburan, terutama dalam segi perawatan, karena besarnya potensinya sebagai wisata makam yang kaya budaya dan sejarah. Sekaligus menghapus stigma bahwa mengunjungi makam ternyata tidak melulu diasosiasikan dengan hal yang menyeramkan dan menyedihkan. Next

ramadan

Desa Bayung Gede Bali, Misteri Gantungan Ari-ari

Barang Wajib Saat Traveling via Unsplash

Haram Ketinggalan! Catat Barang Wajib Saat Traveling