in ,

Intip Beberapa Tradisi Unik Sambut Lebaran di Nusantara

YOGYAKARTA, 17/11 - GREBEG BESAR. Warga berebut Gunungan saat prosesi Grebeg Besar di halaman Masjid Gede Yogyakarta, DIY, Rabu (17/11). Tradisi Grebeg Besar kembali diselenggarakan Kraton Yogyakarta untuk menyambut Idul Adha 1431 H yang jatuh tidak lama berselang setelah meletusnya Gunung Merapi. FOTO ANTARA/Ismar Patrizki/ss/mes/10.

Setelah melakukan ibadah puasa selama kurang lebih 30 hari, tibalah Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan umat Islam di seluruh dunia. Hari ini juga dimaknai sebagai hari perayaan berakhirnya bulan suci Ramadan, serta hari di mana sesama umat Islam saling bersilaturahmi dan memaafkan. Di hari-hari terakhir bulan Ramadhan, biasanya seorang muslim akan melakukan i’tikaf demi mendapatkan keistimewaan Lailatul Qadar. Umumnya i’tikaf dilakukan dengan berdiam diri di masjid, beribadah, berdoa dan memohon ampunan.

Baca juga : Higashi Chaya, Wisata Serba Emas hingga Cerita Para Geisha

Salah satu tradisi sambut lebaran di Jogjakarta. Foto via merahputih.com

Selain itu, ada juga tradisi yang dilakukan di akhir-akhir waktu Ramadan atau menjelang lebaran tiba. Di Indonesia khususnya, ada tradisi mudik dan takbir keliling. Tapi ada juga tradisi yang lebih lokal seperti yang akan Boombastis rangkumkan untukmu berikut ini.

Grebeg Syawal, uniknya saling rebut hasil bumi

Setiap tanggal 1 Syawal, di keraton Surakarta dan Yogyakarta biasanya akan diselenggarakan Grebeg Syawal. Tradisi ini berisi arak-arakan gunungan hasil bumi yang terdiri dari sayur dan buah. Gunungan hasil bumi itu ada dua, Gunungan Kakung dan Gunungan Putri yang merupakan simbol sedekah sultan untuk rakyatnya.

berebut hasil bumi sebagai tradisi menjelang lebaran di yogyakarta. Foto via jatengdaily.com

Karena disebut dengan gunungan, bentuknya tentu saja kerucut. Biasanya gunungan akan didoakan kemudian diarak oleh pengawal keraton. Meski merupakan simbol sedekah, cara pemberian hasil bumi ini tak dibagi satu per satu, melainkan harus diperebutkan. Mereka yang berhasil dapat bagian sekecil apapun dari gunungan in,i dipercaya akan dapat berkah dan kesejahteraan.

Ngejot, berbagi makanan sebagai tanda toleransi

Di Bali ternyata ada juga tradisi menyambut datangnya lebaran, namanya Ngejot. Dalam tradisi ini, warga muslim di Bali akan berbagi makanan kepada tetangga. Tak hanya sesama muslim, namun juga tetangga dengan agama lainnya.

berbagi kepada kerabat dan tetangga sebelah rumah. Foto via tvonenews.com

Tradisi ini merupakan salah satu wujud toleransi antar umat beragama di Bali. Meski jumlah muslim di Bali tak banyak, namun mereka bisa hidup berdampingan dengan damai bersama warga beragama lain. Karena itu, ketika umat Islam di Bali akan merayakan hari besarnya mereka tak lupa berbagi rasa syukur dengan orang-orang di sekitarnya.

Perang Topat, simbol toleransi antar beragama

Di Maluku, tepatnya di Desa Mamala dan Morella, setiap tanggal 7 Syawal biasanya akan dilangsungkan Pukul Sapu atau Pukul Menyapu atau Baku Pukul Manyapu. Ini merupakan salah satu atraksi unik yang dilakukan untuk merayakan lebaran. Dalam atraksi yang sudah ada sejak abad 17 ini, peserta dari dua desa akan berhadapan dan saling menyabetkan sapu lidi.

Perang Topat Sebagai tradisi perayaan menjelng lebaran. Foto via inews.id

Meski terdengar menyakitkan dan penuh amarah, ternyata tradisi ini diakhiri dengan saling mengobati luka sabetan dengan getah pohon jarak. Kadang juga, tokoh agama setempat akan memoleskan minyak mamala yang bisa menyembuhkan luka tanpa bekas dalam hitungan minggu. Tradisi ini sebenarnya punya beberapa versi cerita namun nilai yang dikandung serupa yaitu persaudaraan tanpa memandang SARA. Next

ramadan

Ada yang Sampai Seminggu, Ini 7 Rute Kereta Api Terpanjang di Dunia

5 Destinasi Wisata Hits di Banyuwangi, Habiskan Liburan di Ujung Timur Pulau Jawa