in , ,

Tugu Kunstkring Paleis: Harmonisasi Elegan antara Galeri Seni dan Restoran Mewah

Kulineran Sekaligus Wisata Heritage di Tugu Kunstkring Paleis

Tugu Kunstkring Paleis (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk
Tugu Kunstkring Paleis (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Teman Traveler yang suka dengan wisata heritage tentunya tahu Tugu Kunstkring Paleis, bukan? Tempat kuliner legendaris Jakarta ini yang memadukan sajian fine dining dengan keindahan arsitektur Belanda kuno. Bukan hanya sekadar restoran biasa, Tugu Kunstkring Paleis patut dikagumi berkat keindahannya. Penasaran seperti apa? Simak ulasan berikut.

Baca juga : Kuntum Farmfield, Sensasi Liburan Unik ala Petani

Sejarah Tugu Kunstkring Paleis

Tugu Kunstkring Paleis
Tugu Kunstkring Paleis (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Tugu Kunstkring Paleis adalah salah satu gedung peninggalan Belanda yang terletak di Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. Nama aslinya ialah Bataviasche Kunstkring (Lingkaran Seni Batavia).

Bangunan berusia lebih dari satu abad ini didirikan pada sekitar tahun 1913. Dibangun oleh arsitek Belanda bernama Pieter Adriaan Jacobus Moojen dari perusahaan NV. Bouwploeg, biro arsitektur dan pengembang properti pertama di Jakarta. Kini gedungnya menjadi Masjid Cut Meutia sejak 1987.

Fakta menarik lain tentang bangunan ini yaitu kata Bouwploeg yang kemudian dilafalkan penduduk lokal sebagai Boplo. Sebab mereka merasa kesulitan untuk mengucapkan nama Belanda tersebut dengan benar.

Seiring berjalannya waktu, Bataviasche Kunstkring mengalami transformasi fungsi berkali-kali. Berawal dari galeri seni yang memamerkan karya pelukis besar seperti Van Gogh, Gauguin, Chagall, dan Picasso tahun 1939-1942. Lalu menjadi Majelis Islam A’la Indonesia tahun 1942-1945 dan Kantor Imigrasi Jakarta Pusat tahun 19501997.

Bahkan sempat terbengkalai selama satu dekade sebelum menjadi Buddha Bar, yang sempat menuai kontroversi pada tahun 2007. Hingga akhirnya Tugu Hotels & Restaurant Group mengambil alih. Mereka mengembalikannya menjadi galeri seni dan restoran berkonsep fine dining seperti dahulu kala.

Tempat ini pun menawarkan kuliner Indonesia, oriental dan western. Kemudian mengganti namanya menjadi Tugu Kunstkring Paleis sejak tahun 2013.

Surganya Pecinta Seni, Sejarah, dan Kemewahan

Ornamen Bak Istana (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Ketika melangkah masuk ke dalam gedung ini, kamu dijamin akan berdecak kagum dengan interiornya yang mewah bak istana. Penuh barang-barang antik tak ternilai harganya, berasal dari warisan keluarga konglomerat gula di masa silam, Oei Tiong Ham.

Di ruang utama yang dinamakan The Pangeran Diponegoro Room, terdapat peninggalan Kerajaan Mangkunegaran berupa gerbang emas dan Pakubuwono dari Surakarta. Ada juga “The Fall of Java”, lukisan sepanjang 9 meter bertema penangkapan Pangeran Diponegoro karya sang pemilik restoran, Anhar Setjadibrata, terinspirasi dari lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” oleh Raden Saleh.

Tugu Kunstkring Paleis
Pangeran Diponegoro Room (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Begitu pula Suzie Wong Bar yang kental dengan unsur orientalnya. Terinspirasi dari film Suzie Wong yang pernah dipertunjukkan pada tahun 1960an pada sebuah teater di Menteng. Bar ini dihiasi 2 poster asli film tersebut, becak Hong Kong, dan beberapa lampion di langit-langitnya.

Suzie Wong Bar (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Jangan lewatkan 8 ruang VIP yang berada di lantai 2 dan 3. Kapasitasnya mulai dari 4 hingga 25 orang.

Setiap ruangan memiliki nama yang terinspirasi dari tokoh-tokoh besar dalam sejarah Ibu Pertiwi (Multatuli Room, Soekarno 1950 Room dan Raden Saleh Room), film klasik populer (Darna Room), dewa Yunani (Hercules Room), menu andalan (Colonial Rijsttafel Room) dan nama grup kuliner itu sendiri (Tugu Menara Room).

Soekarno 1950 Room (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Ruang VIP yang sangat berkesan adalah Soekarno 1950 Room, di mana terdapat memorabilia Presiden Soekarno. Di antaranya lukisan penari Bali dengan kehadiran beliau, guntingan berita pemakaman Soekarno, serta koleksi keris yang tertata apik. Tempat ini punya okupansinya maksimal 25 orang.

Lukisan-lukisan Raden Saleh yang termasyur pun menghiasi Raden Saleh Room yang letaknya bersebelahan dengan Soekarno 1950 Room. Darna Room, ruang VIP lain yang didedikasikan untuk film roman klasik berjudul Darna yang sempat populer di tahun 1940an, sekaligus salah satu film favorit sang pemilik restoran, juga tidak kalah indahnya dengan lukisan poster filmnya.

Tugu Kunstkring Paleis
Darna Room (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Seluruh ruangan VIP dapat diakses dengan tangga atau lift. Lampu dan AC hanya dinyalakan bila ruangan sedang dipakai. Demi efisiensi pemakaian listrik dan melindungi lukisan-lukisan dari kepudaran akibat paparan sinar lampu berlebih.  

Foto-foto (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Ketika menuruni atau menaiki tangga, jangan lupa perhatikan dinding-dinding merah yang dihiasi dengan foto-foto asli Tugu Kuntstkring Paleis dari tahun ke tahun. Baik bertransaksi maupun tidak, toko cinderamata yang menjual berbagai pernak-pernik karya anak bangsa ini sudah sepantasnya kamu lirik.

Dekorasinya bergaya etnik dengan payung-payung ala Bali beserta penataan barang-barang dagangan yang sedemikian apiknya. Membuatmu tergoda untuk memiliki satu atau beberapa di antaranya. Wah, jadi pengin belanja, nih!

Tugu Kunstkring Paleis
Souvenir Shop (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Enak Nggak Makanannya?

gulai iga kambing
Gulai Iga Kambing (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Lumrah saja bila kamu bertanya-tanya apakah makanan dan minuman yang disajikan betul-betul enak atau hanya jual suasana. Apalagi harga rata-rata per orang untuk bersantap di Tugu Kunstkring Paleis lumayan tinggi, sekitar Rp160 ribuan sampai Rp250 ribuan. Namun tenang saja, restoran fine dining ini sangat memperhatikan kualitas produk dan visual yang menggugah selera.

Gulai Iga Kambing adalah salah satu menu favorit. Rasanya tidak berlebihan bila dihargai Rp 110 ribuan per porsi. Dagingnya sangat lembut, rasa kuah gulainya juga pas gurihnya, dan porsinya cukup banyak baik daging, sayuran maupun baby potato-nya.

Nasi Goreng Keluak (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Menu-menu nasinya pun tidak kalah enak, seperti Nasi Goreng Keluak dan Nasi Lemak Kunstkring. Nasi Goreng Keluak adalah menu yang terinspirasi dari rawon. Warna nasinya kehitaman karena dicampur keluak. Lauk-pauk disekelilingnya, seperti tauge pendek, kerupuk udang, dan potongan daging sapi juga diolah seperti makanan khas Jawa Timur itu. Harganya Rp80 ribuan.

Nasi Lemak Kunstkring yang seharga Rp90 ribuan seakan menolak stereotype yang ada di pasaran. Selain ikan teri, udang goreng, sayap ayam goreng, telur dadar, kangkung belacan, dan ketimun, terdapat juga cumi tinta hitam yang umum dijumpai di nasi jamblang khas Cirebon.  

Tugu Kunstkring Paleis
Nasi Lemak (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Sebagai pelepas dahaga, Lemongrass Tea yang menggunakan sereh segar geprek dan direbus adalah salah satu pilihan yang tepat. Minuman ini dijual seharga Rp40 ribuan.

Untuk mocktail-nya, Meik Wei Meik Wei, minuman racikan jeruk nipis, stroberi, Sprite dan gula merah juga tidak kalah segarnya, dibanderol seharga Rp45 ribuan. Tentunya, aneka teh, kopi, jus, hingga cocktail dan minuman keras lainnya juga tersedia.

Lemongrass Tea(c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Pelayanan Bak Raja Ratu

Tugu Kunstkring Paleis
Suzie Wong Bar (c) Nydia Teresa Susanto/Travelingyuk

Kunjungan ke sebuah restoran mewah tentunya tidaklah lengkap tanpa pelayanan yang mengedepankan service excellence. Pelayanan yang kamu dapatkan memang selevel hotel bintang 5, mulai dari keramah-tamahan hingga pengetahuan produk yang tidak terbatas soal kuliner.

Ditambah wawasan luas mengenai konsep setiap ruangan dan benda-benda bersejarah di dalamnya. Uniknya lagi, jika memesan Tugu Grand Betawi Rijsttafel, dengan pilihan 12, 16 sampai 24 menu, kamu akan mendapatkan pelayanan ekstra karena proses penyajiannya akan diiringi tarian tradisional dengan alunan musik khas Betawi.

Pastinya, ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Secara keseluruhan, pergi ke Tugu Kunstkring Paleis sangatlah menyenangkan dari segala segi. Selain kualitas makanan yang memuaskan, kamu kudu luangkan waktu sembari foto-foto sepuasnya.

Seluruh elemen di dalamnya sangatlah artistik dengan nilai sejarah yang tinggi. Membuat kamu terbawa dalam dimensi lain yang sarat dengan nuansa nostalgia dan kejayaan yang telah dicapai jauh sebelum generasi milenial lahir.

Saat Teman Traveler menjejalah wisata Jakarta, sempatkan singgah ke Tugu Kunstkring Paleis. Nikmati makanan lezatnya dan rasakan suasana lawasnya. Next

ramadan

Resto Dapur ‘Neng, Rasakan Sensasi Makan di Tempat Bernuansa Budaya Sunda

Hotel Terbaik di Asia 2019, 2 Diantaranya Dari Indonesia!