in ,

Melihat Jejak Freemason di Bandung, Salah Satunya di ITB

Ada fakta-fakta mengejutkan di dalamnya

Perkumpulan Freemason yang kontroversial pernah berdiri di Indonesia sejak tahun 1796 hingga 1962, diprakarsai oleh Jacobus Cornelis Mattheus. Setelah Presiden Soekarno melarang keberadaanya, jejak Freemason masih tersisa di beberapa kota, salah satunya adalah Bandung. Ingin menelusuri jejaknya? Simak informasinya berikut ini!

Baca juga : Segarnya Udara Pegunungan Bisa Kurangi 5 Masalah Kesehatan Ini

Punya Markas Terbesar di Indonesia, Kini Jadi Masjid

Loji Sint Jant via ayobandung

Konon di Bandung pernah berdiri sebuah loji atau tempat berkumpulnya anggota Freemason. Tidak main-main, loji ini disebut sebagai yang terbesar dan teraktif di wilayah Hindia Belanda. Berdiri pada tahun 1896, bangunan ini diberi nama Loji/Loge Sint Jant. ‘Sint Jant‘ sendiri berarti ‘tali persaudaraan’, sesuai dengan prinsip dan nilai aliran Freemasonry sendiri.

Tidak hanya gedungnya yang megah, namun anggotanya juga sangat aktif. Banyak kegiatan sosial yang pernah dilakukan oleh Loji Sint Jant, mulai dari memberikan sumbangan pada komunitas disabilitas, membangun gedung pendidikan, hingga menjadi salah satu perpustakaan terlengkap di Bandung.

No photo description available.
Kini dibangun Masjid Al-Ukhuwwah via Instagram/tamsil9alam

Setelah dilarang Presiden Soekarno pada era Orde Lama, gedung ini pun dibongkar dan sempat dijadikan ruang serbaguna, sebelum akhirnya didirikan Masjid Agung Al-Ukhuwwah pada tahun 1998. Tempat ibadah ini menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi di Bandung.

Sebelum Loji Berdiri, Bermarkas di Gedung Polrestabes Bandung

Image may contain: outdoor
Gedung Polrestabes Bandung via Facebook

Sebelum Sint Jant berdiri, kelompok Freemason di Bandung biasa berkumpul di sebuah gedung sekolah bernama Kweekschool. Karena didirikan oleh sesama anggota organisasi, maka bangunan ini menggunakan gaya arsitektur empire style. Ciri khasnya adalah memiliki empat pilar pada bagian depan yang simetris satu sama lain.

Sekarang, gedung Kweekschool difungsikan sebagai markas Polrestabes Bandung. Meskipun hak miliknya sudah berganti, namun arsitektur bangunan masih berdiri kokoh dan dipertahankan keasliannya mengingat gedung ini termasuk cagar budaya.

Sumbang Gedung Pendidikan untuk Memajukan Bandung

Image may contain: house, sky and outdoor
Kini berdiri sebagai Museum Bandung via Instagram/jackson_ndoen

Selain gedung Kweekschool, anggota organisasi Freemason juga mendirikan tempat pendidikan lainnya. Kali ini lokasinya terletak di titik yang sekarang menjadi Museum Kota Bandung. Bangunan ini dulunya difungsikan sebagai taman kanak-kanak, mengingat kualitas pendidikan anak kecil pada masa itu belum begitu terfasilitasi dengan baik.

Didirikan pada tahun 1898, sarana pendidikan ini langsung mendapatkan cukup banyak murid. Tercatat pada tahun-tahun pertama, sebanyak kurang dari 25 anak terdaftar di sini. Sayangnya setelah pendudukan Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, pesonanya makin redup.

Bangun Toko Buku Biar Makin Kaya Ilmu

Image may contain: outdoor
Gedung Landmark Bandung via Instagram/menangkap_waktu

Gedung yang satu ini memang tidak pernah difungsikan sebagai loji ataupun tempat pertemuan para anggota. Namun, arsiteknya, Wolff Schoemaker, adalah salah satu tokoh senior Freemason. Bangunan ini sejak dulu menjadi toko buku dan tempat pameran yang berhubungan dengan literasi nomor 1 di Bandung.

Meskipun Gedung Landmark sudah tidak seterkenal dan sepopuler dulu, bangunan ini tetap jadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang hendak berburu buku-buku langka terbaik.

Inisiator Keberadaan ITB

Jejak Freemason yang terekam di salah satu sudut ITB via Shutterstock

Sejarah berdirinya Institut Teknologi Bandung (ITB) tidak bisa lepas dari keberadaan organisasi Freemason. Dulunya, kampus ini bernama Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS), dibangun pada tahun 1920 atas ide salah satu anggota senior Freemason bernama Jan Willem Ijzerman.

Tujuan awal dari pendirian THS adalah untuk melahirkan sekaligus memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang sangat sulit didapat. Apalagi, Bandung pada saat itu baru saja tumbuh menjadi salah satu pusat perekonomian di Hindia Belanda selain Batavia.

Hal ini juga terkait visi- misi Freemason yang ingin memanfaatkan kekuatan ilmu pengetahuan untuk mengungkap dan memecahkan permasalahan alam maupun sosial.

Ilustrasi logo Freemason via Shutterstock

Inilah yang menyebabkan logo THS sangat mirip dengan lambang Freemason. Setelah tahun 1958, nama kampus hits ini berganti menjadi ITB, demikian juga dengan lambang beserta filosofinya yang kini menggunakan sosok Dewa Ganesha, pelindung ilmu pengetahuan.

Itulah tadi jejak-jejak Freemason yang terekam di kota Bandung. Tertarik untuk menelusuri lebih lanjut? Next

ramadan

Kedai 66, Resto Tengah Hutan Instagenic di Kediri

Hotel Mambruk Anyer, Akomodasi dengan Spot Sunset Magis