in

4 Mitos Larangan Keluar Maghrib di Berbagai Daerah, Salah Satunya Bertemu Lampor

Di daerah kalian ada mitos apa?

Teman Traveler mungkin sudah tak asing lagi dengan larangan keluar rumah saat atau setelah maghrib. Terkait hal tersebut ternyata ada sejumlah daerah yang sangat mempercayainya. Bahkan, ada mitos yang berkembang di daerah-daerah tersebut. Kira-kira, apa saja mitos larangan keluar maghrib yang ada di berbagai daerah ya? Yuk simak mitos-mitosnya di bawah ini. 

Baca juga : Tempat Menginap di Tabanan Bali, Sisi Pulau Dewata Lain yang Menenangkan

Bertemu Lampor atau Keranda Terbang 

mitos larangan keluar maghrib
Ilustrasi lampor via instagram/zonamistis

Mitos pertama tentang akibat keluar saat maghrib adalah bertemu lampor atau keranda terbang. Mitos ini sudah berkembang di daerah Temanggung dan sekitar Jawa Tengah. Keranda terbang ini disebutkan akan menculik siapa saja yang keluar ketika atau setelah adzan maghrib berkumandang. 

Urban legend tersebut akan meletakkan orang tersebut ke dalam keranda dan dibawa entah ke mana. Kalau sudah tertangkap, orang itu bisa mengalami petaka yang bermacam-macam. Mulai dari sakit parah, menjadi gila atau bahkan meninggal dunia. 

Bertemu Banaspati 

mitos larangan keluar maghrib
Ilustrasi Banaspati via twitter/irvinalioni

Masih di Pulau Jawa, mitos lain yang beredar adalah bisa bertemu banaspati. Adalah sesosok bola api yang terbang dan diduga bisa menghisap darah manusia. Selain itu, banaspati ini juga dipercaya bisa mematikan siapa saja yang telah melihatnya. Uniknya, bola api ini selalu muncul di tempat tak biasa, seperti rawa, danau, hutan, kuburan atau area persawahan. 

Bertemu Wewe Gombel 

Ilustrasi wewe gombel via instagram/jagad.lelembut

Nah, untuk poin yang satu ini sepertinya sudah menjadi mitos semua daerah di Indonesia. Yaitu siapa saja yang keluar saat atau setelah maghrib bisa bertemu dengan wewe gombel. Sosok ini biasanya berwujud perempuan dengan penampilan yang berantakan. Biasanya, ia suka mengincar anak kecil hingga remaja yang masih berkeliaran di luar rumah ketika malam menjelang. 

Kalau ada anak atau remaja yang hilang, ada cara unik yang dilakukan untuk menemukannya. Yakni dengan memukul kentongan keras-keras, supaya si korban bisa cepat diserahkan oleh si wewe gombel. Apabila sudah ditemukan, si korban harus dibersihkan dengan menggunakan air selokan atau urin supaya tidak dapat dideteksi lagi oleh hantu tersebut. 

Mitos Sanja Kuning 

Santet yang keluar saat senja via shutterstock

Di wilayah Kalimantan juga punya mitos larangan keluar maghrib yang dinamakan dengan sanja kuning. Itu adalah sebuah kepercayaan di mana setiap matahari tenggelam akan ada banyak malapetaka yang bertebaran. Contohnya menyebarnya penyakit kuning, setan yang sedang mencari mangsa dan juga santet yang kerap dikeluarkan saat menjelang malam.

Oleh karenanya, masyarakat Kalimantan akan melakukan beberapa hal untuk menghindari beberapa malapetaka ini. Seperti tidak keluar rumah saat maghrib, dilarang duduk di depan pintu, memasak menggunakan kayu bakar dan tak membunyikan alat musik. 

Begitulah beberapa mitos larangan keluar maghrib yang ada di Indonesia. Pada intinya, mitos ini hanya mengajarkan kita semua untuk tidak keluar ketika menjelang malam. Ada baiknya untuk beribadah atau melakukan aktivitas lain yang lebih bermanfaat.  Next

ramadan
Jogja Fashion Carnival 2019

Jogja Fashion Carnival 2019, Cantiknya Malioboro lewat Peragaan Busana Kelas Dunia

5 Desa Adat Terbaik di Indonesia, Budayanya Bikin Bangga