in , ,

Patirtan Jolotundo Mojokerto, Puing Kecanggihan Masa Lalu

Menjelajahi ‘Masa Lalu’ di Patirtan Jolotundo Mojokerto

FI Jolotundo

Mojokerto dikenal kaya akan wisata sejarahnya, mulai dari candi sampai museum. Rupanya bukan hanya itu, Teman Traveler dapat kembali ke ‘masa lalu’ bila berkunjung ke Patirtan Jolotundo, sebuah kolam pemandian kuno di Mojokerto. Air di sini pun dipercaya memiliki tuah. Penasaran ingin mencoba juga? Simak dulu ulasan berikut.

Baca juga : Monumen Jenderal Besar Indonesia yang Terlupakan

Sejarah Patirtan Jolotundo

Patirtan Jolotundo Mojokerto
Kolam di Jolotundo (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Patirtan Jolotundo terletak di lereng Gunung Penanggungan, tepatnya Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Tempat ini pada dasarnya merupakan sebuah kolam dengan ukuran 16 x 13 meter yang memiliki orientasi menghadap ke barat.

Patirtan Jolotundo berasal dari kata Jolo yang berarti air dan Tundo yang berarti bertingkat. Sehingga bila diartikan secara bebas, Jolotundo memiliki arti kolam dengan air yang keluar dari pancuran yang bertingkat – tingkat.

Patirtan atau petirtaan ini dibuat dengan memotong sebagian lereng barat Gunung Penanggungan. Di sudut Tenggara dan Timur Laut terdapat masing masing sebuah kolam kecil. Di atas kolam kecil terdapat bangunan yang memiliki struktur seperti candi yaitu semakin keatas semakin meruncing, yang menempel pada dinding belakang kolam.

Relief dan Prasasti di Patirtan Jolotundo

Patirtan Jolotundo Mojokerto
Patirtan Jolotundo (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Seperti candi pada umumnya di sini juga memiliki relief yang bercerita tentang Ramayana. Ada pula 4 buah prasasti pendek dengan huruf Jawa kuno. Pertama, angka tahun 899 Saka di dinding atas sebelah kiri; kedua kata terbaca Gempeng di dinding atas sebelah kanan. Ketiga kata terbaca Udayana di sudut Tenggara;  keempat kata terbaca Mragayawati di sudut Tenggara.  Keempat inkripsi ini semakin melengkapi aspek sejarah Patirtan Jolotundo.

img_20191007_100036_GEC.jpg
Salah satu inkripsi (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Para ahli sejarah berpendapat bahwa angka tahun 899 Saka menunjukkan tahun berdirinya Patirtan Jolotundo. Artinya saat itu Raja Udayana berusia 14 tahun. Bagai surga tersembunyi, keindahan bangunan candi sekaligus mata air yang menyatu dengan bangunan candi begitu menakjubkan.

img_20191007_100012_CaJ.jpg
Tampak bertingkat tingkat (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Mandi dan Tirakat di Jolotundo

img_9628_01_YU9.jpg
Pendopo tempat tirakat (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Patirtan Jolotundo dipercaya memiliki tuah. Maka dari itu pengunjung ada pula yang datang untuk tirakat di pendoponya, sehingga mereka tinggal untuk beberapa hari. Selain tirakat, mereka juga mandi di bagian kolam. Dulunya pada era Raja Udayana, kompleks Patirtan Jolotundo memang dijadikan kolam pemandian keluarga kerajaan Majapahit.

img_20191007_100207_H4y.jpg
Tempat mandi perempuan (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Bagian untuk mandi perempuan dan laki-laki dibedakan. Sisi kiri candi digunakan untuk pengunjung laki laki, sedangkan ruas kanan digunakan pengunjung perempuan.

Terdapat aturan saat mandi di sini yaitu tidak diperkenankan menggunakan sabun atau sampo. Bertujuan agar tidak mengganggu kelangsungan hidup para ikan yang tinggal di kolam penampungan. Hewan ini pun dikeramatkan. Sehingga penjung harus menghormati kearifan budaya lokal tersebut.

Patirtan Jolotundo Mojokerto
Tempat mandi pria (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk
Patirtan Jolotundo Mojokerto
Air kolam yang begitu jernih (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Air Zam-zam versi Indonesia

Patirtan Jolotundo Mojokerto
Akuifer (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Patirtan Jolotundo disebut sebagai zam-zam versi Indonesia, sebab kadar kemurniannya setara dengan mata air di Makkah tersebut. Mata air di kolam ini pun dikelilingi bebatuan candi yang sekaligus berfungsi sebagai akuifer buatan. Dalam konteks hidrogeologi, akuifer merupakan suatu batuan yang memiliki kemampuan menyimpan dan mengalirkan air tanah dengan jumlah berarti.

Untuk memenuhi fungsi sebagai akuifer suatu batuan harus berpori dan berongga yang saling berhubungan. Sehingga dapat menyimpan dan membiarkan air bergerak secara alami. Dan batuan candi di Patirtan Jolotundo memiliki syarat tersebut. Hematnya, akuifer ini merupakan pompa alami yang meungkin air keluar di antara celah batuan candi.

Akses Menuju Patirtan

Saya menuju Patirtan Jolotundo mengikuti arahan Google Maps., akses jalan mulus. Tidak ada transportasi umum menuju lokasi. Harga tiket masuk Rp. 10.000an per orang. Dengan tiket mobil sebesar Rp. 5.000an. Wisata di Mojokerto ini buka 24 jam.

Demikian perjalanan saya di Patirtan Jolotundo Mojokerto. Sempatkan singgah ke sini saat liburan, ya. Next

ramadan

Merta Harum Agroo Plantation Ubud, Icip Teh dan Kopi di Tengah Kebun Asri

Masjid Gedhe Kauman, Bangunan Bersejarah Berusia Dua Abad