in , ,

Mengupas 4 Tempat Wisata Penuh Filosofi di Banda Aceh

Aceh terkenal dengan budaya dan nilai-nilai agamanya yang kental. Hal ini juga mempengaruhi adanya tempat wisata penuh filosofi di Tanah Rencong. Berikut saya sarikan 4 di antaranya!

Baca juga : Asyik Tapi Bikin Deg-degan, Menaklukkan Goa Kerek Sukabumi

Pertama, Mengulik Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

0002_jZH.jpg
Interior Masjid Baiturrahman (c) Al Vin/Travelingyuk

Tempat ibadah ini wajib kalian kunjungi sebagai destinasi utama Banda Aceh. Masjid ini telah berdiri sejak zaman kejayaan Kesultanan Aceh dan bertahan hingga saat ini. Masjid ini telah melalui berbagai peristiwa sejarah, mulai dari tragedi pembakaran oleh kolonial Belanda tahun 1873 hingga hantaman tsunami pada Desember 2004.

Bagian atap masjid ini dibuat sesuai dengan ciri khas masjid-masjid di Indonesia pada masa itu, atap limas bersusun empat.

Terdapat dua versi sejarah mengenai riwayat pembangunan masjid ini. Sebagian sumber menyebutkan masjid ini didirikan pada tahun 1292 oleh Sultan Alauddin Johan Mahmudsyah. Sementara sumber yang lain menyebutkan bangunan ini didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612.

0001_hLe.jpg
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (c) Al Vin/Travelingyuk

Dalam perjalanannya, masjid ini pernah dibumihanguskan oleh Belanda saat serangan ke Koetaradja (Banda Aceh) pada 10 April 1873. Runtuhnya bangunan masjid memicu meletusnya perlawanan masyarakat Aceh. Mereka berjuang mempertahankan masjid hingga darah penghabisan. Pada pertempuran tersebut, pihak Belanda kehilangan seorang panglima mereka, Major General Johan Harmen Rudolf Köhler pada 14 April 1873.

Bangunan masjid lalu dibangun ulang oleh pihak Belanda atas perintah Jenderal Van Der Heijden. Pembangunan ulang masjid ini merupakan bagian dari upaya meredakan resistensi rakyat Aceh terhadap pendudukan Belanda. Proses pembangunan ulang Majid Raya Baiturrahman berlangsung pada 1879-1881.

Kedua, Menyaksikan Kemaha Besaran Tuhan di Museum Tsunami Aceh 

01_ZTv.jpg
Museum Tsunami Aceh (c) Al Vin/Travelingyuk

Kerap disebut ‘Rumoh Aceh Escape Hill‘, museum ini tidak hanya berfungsi sebagai monumen peringatan, tapi sebagai tempat perlindungan dari bencana tsunami.

Bangunan ini dibangun untuk mengingat peristiwa gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 sekaligus sebagai tempat pendidikan dan pengetahuan mengenai kedaruratan jika terjadi bencana berikutnya.

001_qh7.jpg
Interior Museum (c) Al Vin/Travelingyuk

Museum Tsunami Aceh dirancang oleh Gubernur Jawa Barat yang waktu itu adalah arsitek asal Bandung, yaitu Ridwan Kamil. Saat itu, ia yang berstatus sebagai dosen di ITB memenangkan lomba desain yang digelar oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias pada 17 Agustus 2007 dan berhasil memboyong hadiah sebesar 100 juta rupiah. Bangunan dengan struktur empat lantai seluas 2.500 m² dibangun dengan menghabiskan dana hingga 140 Miliar Rupiah.

Ketiga, Monumen PLTD Apung, Bukti Kedahsyatan Tsunami Aceh

022_0001_c7g.jpg
Kapal PLTD Apung (c) Al Vin/Travelingyuk

Gelombang besar tsunami yang meluluhlantakan Bumi Serambi Mekkah Aceh pada 2004 masih menyisakan sisa-sisa kerusakannya. Salah satunya yang hingga kini masih berdiri kokoh adalah kapal seberat 2.600 ton yang tersapu gelombang. Kini benda besar ini menjadi monumen Kapal PLTD Apung.

2_0001_2BH.jpg
Monumen Tsunami (c) Al Vin/Travelingyuk

Kapal milik perusahaan listrik negara ini berdiri di tengah kota menjadi bukti sejarah dahsyatnya bencana alam yang terjadi saat itu. Jika dipikir lagi, posisi kapal ini sekarang memang nyaris tak masuk akal. Saat tragedi berlangsung, kapal sedang berada di Pantai Ulee Lhee, Banda Aceh.

22_0001_gRF.jpg
Kapal yang terseret (c) Al Vin/Travelingyuk

Akibat diterjang tsunami, kapal terseret dan terdampar hingga 5 kilometer ke perkampungan Gampong Punge, Blangcut. Kini duka pun sudah berlalu, masyarakat Aceh perlahan pun mulai bangkit dan berbenah diri.

Terakhir, Museum Rumoh Aceh, Saksi Sejarah Tanah Rencong

10_52_21_310_768x768_uJO.jpg

Bangunan yang kini digunakan sebagai museum ini didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tanggal 31 Juli 1915. Saat itu lokasi ini masih menjadi salah satu kantor pemerintah di Aceh. Pada tahun 1969, atas ide T. Hamzah Bendahara, bangunan ini dipindahkan dari Blang Padang ke Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah di tanah seluas 10.800 meter persegi.

Museum Rumoh Aceh dibangun sebagai tempat tinggal tradisional masyarakat Tanah Rencong yang berbentuk rumah panggung. Lantai bangunan ini dirancang setinggi 9 kaki atau lebih tinggi dari permukaan tanah.

Keistimewaan rumah tradisional ini terletak pada segi kekokohan bangunannya meskipun hanya dipersatukan dengan ikatan tali, pasak, dan baji sebagai pangganti paku dan sekrup.

Demikian 4 tempat wisata penuh filosofi yang ada di Banda Aceh. Tertarik untuk mengunjungi?

  Next

ramadan

Mie Ayam Pak Bambung, Cicip Menu Mie Hotplate dan Bakar dengan Rasa Juara

Hobi Solo Traveling? Ini Loh 5 Manfaatnya!