in ,

5 Tradisi Rebo Wekasan, Tolak Bala Hadapi Hari Bencana

Ribuan Bencana Turun Saat Rabu Wekasan, Beberapa Daerah Ini Lakukan Ritual Tolak Bala

FI via Instagram @mcm_multimedia

Rabu terakhir di Bulan Safar dalam kalender Hijriah dipercaya sebagai hari penuh bencana. Mulai dari cuaca panas tak tertahankan, penyakit, sampai bencana alam. Demi terhindar dari ribuan bala yang turun, masyarakat di beberapa daerah Indonesia melakukan tradisi Rebo Wekasan. Seperti apa kisah upacara dengan kearifan lokal ini?

Baca juga : Taman Narmada, Keindahan Wisata Bersejarah Peninggalan Raja Karang Asem

1. Rebo Wekasan, Cirebon

Ilustrasi Tawurji Saat Rebo Wekasan via Instagram @iwan.junaedi

Keraton Kanoman Cirebon pun menjalankan tradisi Rebo Wekasan dengan keunikan tersendiri. Terdapat beberapa rangkaian dalam ritual ini. Orang-orang akan berdo’a dan ngirab mandi di sungai. Lalu di keraton sendiri ada tawurji dan ngapem.

Tawurji adalah ritual melempar koin kepada masyarakat. Hal ini dilakukan untuk menolak bala dengan cara berbagi rezeki kepada warga yang kurang mampu. Selain uang, pihak keraton juga berbagi apem. Jajanan ini dipilih sebab merupakan simbol dari manusia yang sedang diberi ujian.

2. Rebo Pungkasan, Wonokromo-Bantul-Jogja

Tradisi Rebo Wekasan
Lemper Raksasa Pada Rebo Pungkasan via Instagram @mcm_multimedia

Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Jogja menyebut hari keramat ini sebagai Rebo Pungkasan. Dalam bahasa Jawa, pungkasan berarti ‘akhir’. Sehingga pada Rabu terakhir di Bulan Safar, para warga mengadakan serangkaian acara untuk tolak bala.

Lemper Akan Dibagikan via Instagram @humasprotokolbantul

Kegiatan ini umumnya diadakan di Balai Desa Wonokromo yang seringkali dihadiri oleh Bupati Bantul. Sebab acara ini memang menjadi bagian dari budaya di kawasan ini. Keistimewaan dari Rebo Pungkasan adalah adanya lemper raksasa dengan panjang sekitar 2,5 meter dan lebar kira-kira 0,5 meter.

Kehadirannya semakin menarik perhatian sebab lemper ini harus dikirab dari Masjid Al-Huda Karanganom menuju Balai Desa Wonokromo. Lalu penganan ini dipotong untuk dibagikan kepada warga.

3. Rabu Abeh, Aceh

Tradisi Rebo Wekasan
Rabu Abeh via Twitter @Kliksatucoid

Masyarakat Aceh yang melaksanakan tradisi Rebo Wekasan atau disebut juga Rabu Abeh akan beramai-ramai pergi ke pantai, sungai, maupun pemandian. Safar sendiri dipercaya sebagai bulan bercuaca panas yang mampu mendatangkan penyakit dan bencana lain.

Sehingga mereka melakukan ritual tolak bala dengan cara berdo’a yang dipimpin oleh pemuka setempat. Dilanjutkan kenduri nasi dalam bungkus dan lauk berupa ikan.

Tidak sampai di situ, mereka pun melakukan bersih diri dengan mandi di sungai, pantai, atau pemandian. Bertujuan untuk meluruhkan segala hal di dalam tubuh yang dapat mengundang bala. Upacara adat ini dapat disaksikan di beberapa tempat, salah satunya Krueng Nagan.

4. Robo-robo, Kalimantan Barat

Tradisi Rebo Wekasan
Rangkaian Acara Robo-robo via Instagram @mempawahtourism

Robo-robo merupakan sebutan untuk tradisi Rebo Wekasan yang dilaksanakan oleh warga Kalimantan Barat, tepatnya sekitaran sungai Kuala Mempawah. Selain sebagai ajang tolak bala, upacara ini dilaksanakan juga untuk menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Robo-robo pun dilaksanakan cukup meriah dengan beragam beragam agenda. Di antaranya do’a dan makan bersama dengan menu khas Kalimantan Barat di antaranya sambal serai udang, ikan asam pedas, bingke, sangon, dan jorong.

Kemudian dilanjutkan dengan melarung berbagai jenis makanan ke sungai. Hal itu adalah wujud do’a kepada Tuhan agar selalu dijauhkan dari bencana dan diberi berkah.

5. Petik Laut, Banyuwangi

Ilustrasi Petik Laut via Instagram @jgawibowo

Selanjutnya ada warga Banyuwangi yang melakukan tradisi Rebo Wekasan dengan Petik Laut, seperti di Pantai Bulusan. Kegiatan ini dilakukan agar nelayan terhindar dari bencana, diberi keselamatan saat melaut, dan mendapatkan hasil tangkapan tumpah ruah.

Petik Laut ditandai dengan pelarungan sajen berisi aneka ragam penganan mulai dari jajanan pasar, polo pendem, sampai kepala kambing. Hanyutnya sajen merupakan lambang dari menyingkirkan bala dan penyakit. Prosesi tersebut pun diiringi oleh tarian Gandrung.

Tradisi Rebo Wekasan merupakan wujud melestarikan budaya dan kepercayaan untuk terhindar dari bencana. Teman Traveler ada yang menyaksikan secara langsung ritual di atas? Next

ramadan
Lobi Hotel Amaris

Hotel Amaris Surabaya, Bujet Mini Mewahnya Maksi

Kolam Lembah Gunung Sari

Lembah Gunung Sari, Sensasi Renang di Alam Pedesaan